Global Statistics

All countries
648,931,066
Confirmed
Updated on 2 December 2022 9:55 PM
All countries
624,949,189
Recovered
Updated on 2 December 2022 9:55 PM
All countries
6,643,618
Deaths
Updated on 2 December 2022 9:55 PM
Sabtu, Desember 3, 2022

Babak Baru Islam dalam Kapitalisme

- Advertisement -

Kampartrapost.com Jarak perjuangan gerakan dalam rentang waktu sebentar memang melelahkan, absurd, dan terjal.

Reaksi yang meledak-ledak belum juga menemukan titik konklusi non-abstraksi.

Model serta metode kontemporer begitu sangat ambigu dan kadang rentan terjebak ke lembah penghianatan suatu isme yang kerap kali menjadi taruhan di meja judi dalam politik identitas.

- Advertisement -

Sejak Fukuyama teriak-teriak non-kapitalisme sudah dikubur hidup-hidup, relevan dengan tenggelamnya Soviet, pragmatisnya Deng Xiaoping, serta menjamurnya pembiayaan lembaga keuangan internasional dengan indikator pembangunan dan kepailitan negara-negara di babak akhir abad 20 adalah momentum berkibarnya bendera kepemilikan modal sebagai satu-satunya jalan menuju tugas suci meskipun bertaburan korban di negerinya sendiri.

BACA JUGA: Berdirinya Republik Turkiye Goyce-Zangezur : Republik Turkiye menjadi yang Pertama Mengakui serta Bagaimana Sikap Indonesia Kedepannya ?
- Advertisement -

Benih-benih kuasa kapital sudah mulai terlihat ketika dominasi Islam (terutama di Timur Tengah) dikooptasi melalui pemahaman bahwa gerilya adalah tindakan melawan norma-norma hukum internasional, yang lantas harus disikat.

Dikit demi sedikit semakin luas, semakin liar, dan tidak terkontrol.

- Advertisement -

Otoritas tidak menggiring ke arah mediasi, negosiasi, atau pun upaya pembagian kuasa; biarkan pemerintah berargumen kemudian bekerja semaunya meski sekalipun di negara demokrasi.

Corak yang tidak sejalan dengan dominasi setempat akan dianggap aneh, meskipun hanya berlainan pada sebuah metode dan sikap.

Maka kita akan melihat cuplikan lingkaran proses sampai ke distribusi pada ruang keadilan yang diotomatisasi untuk dinon-aktifkan secara gradual dengan pelbagai dalil-dalil yang sahih.

Kesahihan sepihak (sengkarut kapitalisme) dapat kita periksa di dalam kisah sukses Al Amoudi yang mendapat konsesi lahan dari pemerintahaan Arab Saudi hingga 50.000 hektare.

BACA JUGA: Satu Pekan 3 Peristiwa Pergantian Kepemimpinan

Kedekatannya dengan penguasa Ethiopia serta latar belakang yang mentereng sebagai seorang bisnisman membawanya dipercaya pemerintah Arab Saudi yang sebelumnya telah menyalurkan guyuran dananya ke Ethiopia untuk melakukan pembangunan dalam sektor bisnis konstruksi dan real estate.

Tidak lain alasan klasik penguasa Ethiopia saat itu ialah menghadapi ketidakpastian global.

Al Amoudi mengakselerasi dirinya dengan mendirikan Saudi Star Agriculture Development sebagai kendaraan keduanya untuk menyingkirkan pelan-pelan penduduk tradisional di wilayah Gambela Ethiopia atas nama lagalitas.

Sementara legitimasi rakyat di Gambela membawa revolusi kultur lokalnya yang jorok.

Di Indonesia, mungkin belum terang-terangan seperti itu, namun sindromnya telah nampak.

BACA JUGA: Dilema Perbaikan Masjid Islamic Centre Bangkinang Kota

Liuk-liuknya tercium di muka, bagi yang meraba dari jauh dengan penciuman naluri pasti imajinasinya segera terbuka.

Justru yang tidak terlalu nampak membawa bahaya kemaslahatan khalayak, dengan cara menghegemoni ideologi dan segala perangkatnya mereka dapat memukul semua yang berada di seberang, alih-alih karena melawan kesepakatan bersama.

Islam dan Keroposnya Gerakan                      

Dalam sebuah identitas terdapat tautan yang melekat pada setiap subjek.

Ajaran atau isme yang terpatri dari sana-sini kemudian seharusnya teraplikasi ke dalam ruang lebih besar yang menyangkut hajat hidup orang banyak.

Di mana teologi mendapatkan porsi yang paling banyak, di situ umumnya irama dan ketukannya datar, bunyi yang keluar hanya sekadar menuntut refleksi vertikal dan kerap menimbulkan riak-riak ketidak-adilan horizontal.

Maka akan menjadi masalah jika berangkat dengan cukup menempatkan teologi sebagai cuplikan isme itu sendiri.

BACA JUGA: Pertama di Dunia, Bitcoin Jadi Mata Uang Resmi El Salvador

Ketika Marx menghadapkan dirinya sebagai orang yang kritis terhadap kekuasaan dengan embel-embel ketaatan melalui mekanisme kelembagaan-yang mana bagi Marx- malah justru karena kelembagaan tersebut telah mematikan esensi agama itu sendiri sebagai bentuk cara merefleksikan diri terhadap kondisi sosial di zamannya.

Protesnya menimbulkan akumulasi asumsi yang koheren dengan penyakit masyarakat yang begitu cepat menikmati gelombang yang datang dari pe-lolong Agama.

Di Indonesia, memayoritaskan yang telah mayoritas terasa mudah, yang sulit, meminoritaskan yang sudah mayoritas dari kungkungan para bedebah kelompok mayoritas bermodal.

Islam sebagai peserta teramai belum begitu nampak wujudnya di panggung lokal sebagai agama pembebasan.

Islam dipaksa menurunkan kadar kemampuannya di dalam organisasi bernegara kemudian penganutnya dituntut hanya mengatasi akhlak, sumbangan masjid, pembangunan pesantren, isi kotak amal, dan tumpukan proposal ke berbagai bos-bos non-Islam.

Mentalitas itu dapat kita temui setiap hari, dari masjid ke masjid, dari Jum’at ke Jum’at sampai tiba saatnya lupa esensi dan kodratnya sebagai penyempurna.

BACA JUGA: Menggali Ambisi Rusia yang Tertanam di Ukraina

Tidak ada yang salah dengan pelajaran akhlak, begitu pun juga rutinitas ritual kalender Hijriah.

Namun yang jadi soal adalah pantulan ilmu yang didapat apakah terlaksana dengan benar-benar, seperti terus bersikap skeptis terhadap penguasa? Ada banyak juga yang mengelak bahkan membantahnya; agama ini sudah dijaga oleh yang kuasa.

Pecahnya tafsiran-tafsiran dari yang skeptis hingga yang antipati membawa muatan masing-masing tafsir sosial keagamaan.

Di mana sekumpulan berbondong-bondong melakukan buka puasa bersama sementara hanya sedikit sekali ada beberapa orang yang melongok di kolong jembatan di luar Ramadan atau sekurang-kurangnya sampai bulan ini.

Jelas seperti sabda Nabi yang kira-kira bunyinya; kalian jumlahnya banyak, tapi seperti buih-buih di tengah lautan.

Kondisi ini tercipta karena adanya komersialisasi identitas oleh lembaga-lembaga yang mewadahi berikut sistemnya, juga elite politik yang lapar kuasa hingga martir di kanan-kiri.

BACA JUGA: Amazon Perkenalkan Sensor Pelacak Napas Saat Tidur

Lebih daruratnya polarisasi dipetakan bukan atas dasar ideologi itu sendiri yang menjadi pijakannya, tapi pesona personal lah yang menjadi dambaan.

Bahwa kemudian arah Islam sendiri sebagai agama pencerahan menjadi redup berkat sentimentil/prontagonis orang yang dianggap mampu/tidak untuk mengemban, melainkan bukan konsep yang menjadi pembahasan bersama, mana bahaya dan baik, mana hak dan batil.

Karena para ulama sepakat adhororu yuzal (bahaya itu harus dan wajib dihilangkan)

Jika demikian kiranya, kita perlu mulai menelaah, memahami, merombak, dan memilah persoalan sosial yang segera diselesaikan melalui turunan kaidah fikihnya yaitu darul mafasid aula minjalbi al musholih: bahwa menolak bahaya atau kerusakan lebih diutamakan dibanding memberi kemaslahatan.

Maslahat kita akan amat terasa sulit karena menghadapi gerakan yang terpecah akibat polusi elite dengan sistem kapitalismenya.

Kunjungi Instagram Kampartrapost

Pada akhirnya semua yang dielu-elukan khalayak ramai akan tetap menjadi pahlawan, yang sedikit dan benar-benar bekerja akan menjadi buih-buih di bibir laut.

Tantangan Sekarang

Potret Al Amoudi di atas telah menjangkit di berbagai belahan negara-negara Islam.

Kuatnya finansial membawa arah gerakan menjadi ambigu yang sukar diatasi.

Pentas politik yang sebentar lagi muncul dengan ragam beritanya merupakan kesempatan emas bagi bayangan Al Amoudi lainnya.

Aroma personal di muka umum belum dapat diukur sebagai pemecahan masalah kemaslahatan umat yang kian terkikis kemiskinannya.

Semua organisasi Islam patut dipertanyakan serta dimintai rasa tanggung jawabnya terhadap keadaan sosial akhir-akhir ini.

- Advertisement -

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkait