Bahasa Pemersatu di ASEAN

Oleh:

Adityo Darmawan Sudagung

Mahasiswa Doktoral di Institut für Internationale Entwicklung, University of Vienna, Austria

- Advertisement -

Kampartrapost.com – Pada tanggal 23 Maret 2022 Perdana Menteri Malaysia mengeluarkan pernyataan yang menarik dengan menawarkan kepada negara anggota ASEAN agar menetapkan Bahasa Melayu sebagai bahasa resmi kedua.

Menurutnya wacana ini merujuk pada penggunaan Bahasa Melayu di beberapa negara tetangga Malaysia mulai dari Brunei, Thailand bagian Selatan, Singapura, Filipina bagian Selatan, Vietnam, Kamboja, dan Indonesia.

- Advertisement -

Beliau juga menyampaikan data penutur bahasa Melayu di Vietnam dan Kamboja mencapai total 960.000 jiwa (Tan 2022). Wacana ini tentu sangat menarik di tengah upaya ASEAN sebagai organisasi regional di kawasan Asia Tenggara menyatukan warganya dalam sebuah Komunitas ASEAN sejak 2015.

Sejalan sebenarnya dengan visi mereka, yaitu “Satu Visi, Satu Komunitas, dan Satu Identitas”. Namun, bagaimanakah peluang dan tantangan yang mungkin muncul atas kemunculan wacana ini? Tulisan ini akan mencoba menjelaskan sudut pandang penulis terhadap beberapa peluang mulai dari merekatkan ASEAN lewat bahasa dan kemampuan diplomasi publik Malaysia serta tantangan menguatkan semangat etnonasionalisme bangsa Melayu dan kemungkinan tidak terakomodirnya kelompok minoritas di kawasan serta memunculkan persaingan diplomasi bahasa dari masing-masing negara anggota. Pada bagian akhir penulis akan menyampaikan alternatif solusi menyikapi beberapa peluang dan tantangan tersebut.

Mencari Identitas Pemersatu di Asia Tenggara

Kawasan Asia Tenggara memiliki keunikan tersendiri dalam hal pembentukan identitas nasional maupun kawasan. Proses ini di dua level tersebut lebih banyak didominasi oleh proses politik.

Pada saat negara-negara di ASEAN merdeka menjadi sebuah negara, hampir semua meneruskan wilayah yang dikuasai oleh penjajah sebelumnya.

Sebuah tulisan yang menarik dari Alfred Gerstl dan Maria Strašáková (2017) menunjukkan bahwa pada masa kolonial, para penjajah membagi wilayah kekuasaan mereka dengan tidak memperdulikan keberagaman suku, bahasa, agama, dan identitas lokal yang ada.

Jauh berbeda dengan konsep negara-bangsa hasil perjanjian Westphalia (1648) yang banyak diterapkan di Eropa di mana negara merupakan perwujudan dari representasi bangsa yang homogen.

Sejarah juga mencatat pasca era kolonialisasi, masing-masing negara di Asia Tenggara masih berkutat dengan isu identitas nasional, seperti nasionalisme, politik etnis, konflik etnis, serta pertentangan antara kelompok mayoritas dan minoritas.

Menarik kemudian untuk diperhatikan adalah lagi-lagi upaya politik yang lebih dikedepankan untuk merekatkan atau merawat kebangsaan di satu negara tersebut.

Misalnya dengan menerapkan bahasa nasional, simbol-simbol nasional, pelajaran kewarganegaraan untuk meningkatkan patriotisme, budaya nasional, lagu-lagu nasional, dan lain sebagainya.

Kebanyakan bersifat top-down, seperti yang juga diupayakan oleh ASEAN ketika mengusulkan Komunitas ASEAN. Karena jika kita mau merefleksi kondisi sosial kita sebagai warga Asia Tenggara, apakah kita sudah benar-benar tahu 10 negara ASEAN terdiri dari negara apa saja? Bahasa apa saja yang digunakan? Apa yang menjadi ciri khasnya? Sejauh mana kita mengenal mereka dan juga ASEAN itu sendiri? Atau selama ini hanya mengenal sebatas tim nasional sepakbola atau atlit yang berlaga dengan membawa bendera negara masing-masing di ajar perlombaan tingkat kawasan?

Maka perlu juga kita melakukan refleksi sebenarnya seperti apakah identitas ASEAN itu? Atau bisa jadi apa yang ingin diwujudkan berupa Komunitas ASEAN sama saja dengan konsep komunitas terbayangkan yang dicetuskan Benedict Anderson pada 1983.

Komunitas terbayang menjadi salah satu konsep menarik di bidang Sosiologi saat membahas konstruksi sebuah bangsa karena beranjak dari narasi kebangsaan yang direproduksi oleh negara-bangsa (Blackshaw 2010).

Sejauh pengamatan saya, arah identitas ASEAN yang dicanangkan adalah mengakui bahwa di seluruh negara anggota memiliki keberagaman secara etnis, budaya, maupun bangsa. Bahkan salah satu upaya mempersatukannya adalah menjadikan bahasa Inggris sebagai bahasa resmi di ASEAN.

Apa yang coba digagas oleh Malaysia bisa juga dikategorikan sebagai upaya untuk merekatkan warga ASEAN. Jika data penutur yang disampaikan oleh PM Malaysia adalah benar, maka tidak ada salahnya Malaysia mengusulkannya. Namun, perlu juga dikaji lebih lanjut sejauh mana peluang serta tantangan yang mungkin dihadapi atas wacana tersebut di masa yang akan datang.

Peluang dan Tantangan Wacana Bahasa Melayu sebagai Salah Satu Bahasa Resmi di ASEAN

Malaysia punya pengalaman yang menurut saya menarik dalam memperkenalkan dirinya ke negara tetangga maupun ke dunia. Pada periode 1990-2000-an, saya sangat teringat dengan istilah “Malaysia Truly Asia”.

Sebuah frasa yang membekas dan menunjukkan cara Malaysia menunjukkan jati dirinya. Sebelum saya ke Malaysia pada tahun 2011, saya kira itu hanya iklan semata. Tapi, pengalaman sebulan di Pulau Penang membuat saya berpikir bahwa kalimat itu benar adanya.

Saya coba mengingat lagi memori ketika di sana melalui tulisan lama di blog pribadi. Ketika itu saya menyaksikan sendiri bahwa di Kota Penang terdapat berbagai macam toko dan orang dari hampir seluruh bagian dari Asia.

Mulai dari Arab, Korea, Jepang, dan Asia Tengah. Belum ditambah orang India dan Tionghoa dari negara aslinya yang dapat melebur di antara dua dari tiga suku mayoritas yang ada di Malaysia.

Saat itu saya sampai pada sebuah pemikiran bahwa jika ingin melihat wajah Asia, cukuplah datang ke Malaysia.

Pengalaman lain yang juga akan selalu melekat jika saya mengingat Malaysia adalah “Upin dan Ipin”. Film kartun anak-anak yang pertama tayang sekitar tahun 2006-2007 dengan episode pendek berdurasi sekian menit mampu menjadi sebuah brand yang sangat ikonik khas Malaysia.

Bahkan kejayaan “Upin dan Ipin” terus dapat dirasakan pada tayangan televisi di Indonesia dengan kualitas yang terus meningkat. Versi film layar lebar dan bahkan mereka sudah mampu menembus saluran Cartoon Network.

Kehadiran “Upin dan Ipin” juga diikuti oleh serial kartun asal Malaysia lainnya, mulai dari “Boboiboy”, “Ejen Ali”, dan “Pada Zaman Dahulu”. Sebagai seorang ayah dengan dua anak laki-laki yang senang menonton kartun, menyaksikan film-film di atas adalah sebuah kesenangan tersendiri bagi mereka.

Tentunya kami juga jelas terpapar dan dikenalkan dengan bahasa Melayu Malaysia dari menonton tayangan tersebut. Secara pribadi, tidak terlalu sulit karena sehari-hari saya dan keluarga di Pontianak juga terbiasa berbahasa Melayu.

Bahkan yang jadi menarik adalah saat saya merantau ke beberapa daerah di Indonesia dan memberitahukan bahwa saya berasal dari kota yang sehari-hari berbahasa Melayu, mereka justru langsung menyebutkan nama “Upin dan Ipin”.

Hingga saya harus menjelaskan bahwa ada beberapa perbedaan kosa kata antara bahasa Melayu di Pontianak dengan yang digunakan di Malaysia. Malaysia berhasil berdiplomasi publik memperkenalkan diri dan identitas Melayunya, baik budaya hingga bahasa ke khalayak ramai di Indonesia dan seluruh dunia.

Meski demikian, saya menilai masih terdapat setidaknya dua tantangan besar dalam wacana dari PM Malaysia tersebut. Pertama, kekhawatiran wacana ini hanya membangkitkan semangat etnonasionalisme bangsa Melayu di Malaysia.

Kedua, dapat juga berdampak pada persaingan negara atau kebudayaan atau etnis yang ada di Asia Tenggara. Saya melandaskan argumen tantangan pertama pada kondisi di dalam negeri Malaysia yang menuntut adanya peningkatan pengakuan dan pemberlakuan bahasa Melayu sebagai bagian dari identitas bangsa.

Desakan ini sangat deras dan masif dan menurut saya menjadi salah satu alasan dari PM Malaysia kemudian menggulirkan wacana penggunaan bahasa Melayu di level ASEAN.

Sekali dayung, dua pulau terlampaui. Satu sisi menenangkan desakan di level domestik dan di sisi lain juga meningkatkan citra Malaysia di level Asia Tenggara yang tentunya akan semakin menyenangkan masyarakat yang menyampaikan aspirasi terhadap identitas Melayu tersebut.

Namun, kemudian memunculkan sebuah pertanyaan: bahasa Melayu yang mana? Karena bahasa Melayu di beberapa daerah di Indonesia saja terdapat beberapa jenis dan tidak identik sama dengan di Malaysia. Belum lagi pertanyaan-pertanyaan: bagaimana dengan suku lain yang tidak berbahasa Melayu? Apakah suku Melayu kemudian akan menjadi representasi seluruh warga Asia Tenggara? Lantas, Melayu yang mana? Pertanyaan-pertanyaan ini juga dapat mengarah kepada persaingan antar suku atau bangsa yang ada di Asia Tenggara.

Jika Malaysia boleh mengajukan bahasa nasionalnya menjadi salah satu bahasa resmi, kenapa Indonesia tidak melakukan hal yang sama? Jika klaimnya adalah jumlah penutur, bukankah penutur bahasa Indonesia juga jumlahnya banyak? Karena penduduk Indonesia saja jauh mengungguli seluruh penduduk di sembilan negara ASEAN lainnya. Saat masing-masing negara memiliki dan masing-masing punya kebanggaan atas bahasa nasionalnya, tidak menutup kemungkinan negara yang lain juga akan berdiplomasi untuk mengajukan bahasa mereka.

Sebagaimana masalah perbatasan dan klaim kebudayaan yang sering berbenturan karena dibalut semangat nasionalisme dan patrioritisme. Jika salah mengemas komunikasi atas wacana ini, menurut saya justru akan menjadi kontraproduktif dengan tujuan menyatukan ASEAN. Malah makin menguatkan friksi antar identitas nasional yang ada.

Menurut pandangan saya, salah satu alternatif yang dapat ditawarkan menyikapi peluang dan tantangan yang ada adalah mengenalkan dan mempelajari bahasa nasional yang ada di ASEAN.

Setidaknya kita dapat mengenal satu sama lain dengan mengetahui alat bantu komunikasi di masing-masing negara. Bahasa-bahasa nasional tersebut dapat menjadi jembatan antara masyarakat Asia Tenggara, selain bahasa Inggris tentunya sebagai bahasa internasional.

Saya lebih hirau kepada saling mengenal karena melalui tahap ini kita dapat saling memahami dan meningkatkan rasa memiliki antar sesama. Sebagaimana kita di Indonesia juga masih perlu lebih banyak saling mengenal agar mampu meningkatkan persatuan dan persaudaraan sebagai sesama bangsa, begitu juga ASEAN jika ingin warga Asia Tenggara menjadi satu komunitas dengan satu identitas.

Berita Direkomendasikan

Berita Terpopuler