Cerita Mahasiswa Kampar Tentang Hidup di Kazakhstan

Kazakhstan, Kampartrapost.com – Junaidi Firdaus, mahasiswa asal Kampar menceritakan tantangan menjalani kehidupan di Kazakhstan.

Dia mengatakan hal yang paling menjadi kendala saat awal berada di Kazakshtan adalah perihal bahasa. Dimana di Kazakhstan hanya menggunakan 2 bahasa, Rusia dan Kazakh, dan sangat jarang menemukan orang yang bisa berbahasa inggris.

“Pastinya bahasa, karena dulu sama sekali gak bisa bahasa Rusia apalagi bahasa Kazakh. Karena di sini mereka menggunakan 2 bahasa yaitu bahasa Rusia dan Kazakh, dan dulu jarang banget kita nemuin orang yang bisa bahasa inggris,” kata Junaidi kepada kampartrapost via WhatsApp, Rabu (10/11).

Baca juga: Junaidi Firdaus, Orang Indonesia Pertama dari Kampar Kuliah di Kazakhstan

Kemudian Junaidi juga harus beradaptasi dengan musim dan makanan di sana yang jelas-jelas sangat jauh berbeda dengan Indonesia.

Seperti di sana ada musim dingin, semi, panas dan gugur.

“Pergantian musim juga dulu jadi kesulitan, karena sering sakit apalagi kalau pergantian musim gugur ke musim dingin. Apalagi dulu belum paham pas musim dingin, apa yang perlu di pakai, sepatu kayak gimana, kaos kaki harus yang tebal dll”

“Dan makanan pastinya, karena di sini hampir mirip makanan sama di Rusia jadi rasanya hambar,” lanjut keterangan dari Junaidi tentang Kazakhstan.

Tantangan Menjalani Kehidupan di Kazakhstan

Tidak hanya bahasa, musim dan makanan. Budaya juga memiliki perbedaan signifikan antara Kazakhstan dengan Indonesia dalam konteks menghormati orang lain. Di Indonesia untuk menghargai atau menghormati orang lain, cukup dengan menyalaminya. Berbeda dengan Kazakhstan harus dengan memeluknya.

Baca juga: Keren, Mahasiswa Asal Kampar Buka Les Bahasa Indonesia di Kazakhstan

“Jelas ada dong, karena setiap negara pasti punya budaya yang berbeda-beda”

“Tapi salah satu budaya yang paling buat kaget dulu adalah ketika ketemu temen itu harus saling peluk, jadi gak kelihatan perbedaan temen cowok atau cewek di sini,” ungkapnya.

Tetapi aslinya orang Kazakhstan sangat ramah, walaupun mereka sempat sinis ketika melihat orang baru pertama kali yang belum familiar dengan mereka.

“Yang paling sulit itu ketika adaptasi, karena dulu kan belum kenal siapa-siapa. Jadi misal kalau kita lewat di kerumunan orang-orang, mereka tu kayak lihat kita tu sinis gitu, ini mereka darimana gitu, ini mereka kok agak beda ini, kayak bukan orang Kazakhstan ini. Pas pertama kan, kita tu mikir orang ni pendiam banget, terus kayak ngga ramah banget. Tapi setelah kita kenal satu sama lain, kita tahu namanya, kita tahu dia kuliah dimana, terus setidaknya kita sudah mengetahui satu sama lain, itu sudah memecahkan ketidaknyamanan mereka. Jadi disini gitu, kalau misalnya kita belum kenal, itu bakal jutek banget, bakal tidak ramah banget. Tapi setelah kita kenal, mereka bakal jadi kayak saudara gitu, baik banget, ramah banget,”

Baca juga: Candi Muara Takus, Kerajaan Dan Pusat Peradaban Sumatera yang Terlupakan

Perbedaan budaya lainnya antara Kazakhstan dengan Indonesia adalah saat orang Indonesia melakukan silaturahmi ketika hari Raya Idul Fitri, tetapi tidak dengan Kazakhstan.

Bulan Ramadhan di sana pun juga sangat berbeda suasanannya dengan Indonesia, Junaidi merasakan Indonesia jauh lebih baik dari pada Kazakhstan.

“Banyak banget budaya-budaya di sini yang ngga sama kaya di Indonesia, contohnya yang paling kita kangenin adalah hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Biasanya di Indonesia tu kan kita merayakannya sampai-sampai hari libur. Tapi di sini mereka shalat, shalat Idul Adha, shalat Idul Fitri, tapi setelah itu yaudah gitu, setelah itu mereka tidak merayakannya. Jadi kita setelah Idul Fitri atau Idul Adha yaudah balik ke rumah. Kecuali misalnya MC kaya ada ngadain kayak open house atau makan bersama itu sih. Tapi bagi orang-orang Kazakh sendiri mereka ngga merayakan sebegitunya kalau Idul Adha, Idul Fitri”

“Dan ketika ketika Bulan Ramadhan. Ketika bulan Ramadhan itu di sini ngga terasa Ramadhannya, ngga tau kaya hari-hari biasa aja. Dan restoran masih buka, terus ngga ada yang tadarusan, itu salah satu yang membuat kita kangen suasana Ramadhan di Indonesia, jadi memang Ramadhan di Indonesia itu yang paling the best deh.”

Baca juga: Koleksi Musim Dingin yang Berbunga-bunga dari Onitsuka Tiger

Kebanyakan orang Kazakhstan juga muslim, tetapi mereka tidak memaknai bulan Ramadhan seperti biasanya yang dilakukan oleh orang-orang Indonesia.

“Kayak suasana Ramadhannya dapet, segala macam, ibadahnya juga dapet gitu. Kalau di sini ya mungkin karena mereka ngga terlalu ya ngga terlalu tau gitu tentang bulan Ramadhan,” tutup penjelasan mahasiswa Kampar itu. (fw)

Berita Direkomendasikan

Berita Terpopuler