Cerita Ramadhan Mahasiswa asal Kampar di Negeri Dua Nil, Sudan

0
934
Foto: Andri Sukrinaldi di depan salah satu ikon negara Sudan
Foto: Andri Sukrinaldi di depan salah satu ikon negara Sudan

Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh.

Halo, perkenalkan saya Andri Sukrinaldi, anak pertama dari tiga bersaudara. Saya merupakan alumni Pondok Pesantren Darus-Sakinah, satu-satunya pondok pesantren di Kecamatan Xlll Koto Kampar, Batu Bersurat lebih tepatnya. Saat ini, saya sedang menimba ilmu di Fakultas Syari’ah wal Qonun, International University of Africa, Sudan.

Ramadhan di Sudan

Ramadhan di kampung orang ini rasanya pasti sangat jauh berbeda dibandingkan dengan Ramadhan sewaktu saya masih tinggal di kampung tercinta negeri bertuah. Di Negeri Dua Nil ini, suasana pagi kami sudah disambut dengan matahari yang terbit dengan kilau panasnya, sampai-sampai listrik padam karenanya. Suhu 43 derajat Celcius sangat lah tak biasa dirasakan orang dari Asia Tenggara, membuat diri harus betul-betul kuat melalui hari-hari yang panjang.

Tidak jarang kain dan kasur menjadi sarana terampuh mengatasi teriknya panas. Kami para mahasiswa memiliki kebiasaan untuk menyirami kain dan kasur tersebut dengan air agar kami dapat merasakan sensasi dingin yang menyejukkan ketika berbaring di atasnya.

Suasana panas terik di Sudan

Keadaan ini tentunya bukan untuk disesali dan dikutuk. Alhamdulillah, suatu kenikmatan besar untuk berada di negeri yang terkenal akan Bahasa Arab nya yang tidak jauh meleset dari Bahasa Arab Fushah. Lagi dan lagi harus bersyukur dan bersabar lebih banyak agar nikmat yang Allah berikan tidak hilang sia-sia dan selalu bertambah dari waktu ke waktu.

Baca juga: Malaysia Waspadai Covid-19 dari India

Namun, seiring berjalan nya waktu, terik panas itu tak pernah lagi kami hiraukan. Kami sudah semakin terbiasa. Terlebih lagi, semakin hari kami lebih memfokuskan diri untuk menata masa depan. Oleh karenanya, kami tak mempunyai waktu untuk meratapi keadaan yang memang tak perlu diratapi.

Ramadhan berlalu sekejap mata

Baru saja kemarin Ramadhan tiba, tak terasa sebentar lagi untaian takbir pun akan bergema dan berbunyi nyaring di masjid-masjid. Alhamdulillah, Ramadhan yang kedua di tanah Afrika ini, negeri seribu Darwis julukannya, akan sukses terlaksanakan. Berbekal tekad kami jalani Ramadhan dengan penuh makna.

Sebagai orang yang menuntut ilmu, tidak lupa pula kami mempersiapkan berbagai agenda dan acara untuk menjadikan waktu-waktu di bulan Ramadhan lebih bermanfaat dan tidak berlalu begitu saja.

Ramadhan bulan mulia, bulan yang penuh dengan rahmat dan berkah. Tilawah dan tadabbur Al-Qur’an menjadi aktifitas utama di dalamnya. Telah disampaikan bahwa sesibuk-sibuknya Utsman ibn’ Affan sebagai khalifah, pemimpin besar yang multitalenta, masih bisa mengkhatamkan Al-Qur’an setiap satu minggu. Bagaimana tidak, itu karena Al-Qur’an adalah penyebab terpenting kesuksesannya. Sesibuk-sibuknya Umar bin Khattab, setiap pagi dhuha, ia selalu membina kelompok muslim belajar AlQuran, Ibnu Abbas adalah hasil didikannya.

Baca juga: Sedang Berbuka puasa, Warga Palestina Diserang Pemukim Israel di Sheikh Jarrah

Ramadhan saya ini berlalu bersama dengan teman dan sahabat dari berbagai daerah, yang juga berbeda suku dan budaya. Kami bercerita, belajar bersama, membagi kisah, merajut ukhuwah. Ternyata ada banyak cerita yang didapat ketika kita berkelana jauh. Bertukar kisah dengan teman tentang apa makna hidup di tanah orang, tentang tempat, suasana dan kondisi yang sudah dilalui. Jika diceritakan, tentu waktu satu jam saja tidak akan cukup.

Selama bulan Ramadhan, kita akan melihat berbagai pemandangan dan mendapati pengalaman yang menarik menjelang waktu berbuka puasa di Sudan. Di banyak ruas jalanan ada tradisi masyarakat Sudan yang dikenal orang Indonesia dengan ‘Begal Ramadhan’.

‘Begal Ramadhan’ adalah aktifitas yang mana para muhsinin membuat jamuan bagi orang-orang yang berpuasa. Yang lewat akan diberhentikan agar ikut berbuka bersama. Begitu ramahnya masyarakat Sudan menyambut Ramadhan dengan penuh gembira. Makanan yang disuguhkan pun berbeda setiap harinya, mulai dari nasi kuning lengkap dengan dagingnya, kacang dengan roti keringnya, Shaksuka, Kurma basah, dan makanan khas Sudan Ashidah sebagai menu utama. Tak lupa berbagai Ashir (aneka ragam minuman), Crocodai (teh rosella), jus rasa jeruk, manga, juga disediakan untuk para korban begal tersebut.

Menu berbuka masyarakat Sudan

Suasana ‘Begal Ramadhan’ ini menyajikan sebuah pemandangan yang elok di sepanjang jalan kota Khartoum. Tikar-tikar terhampar membentuk kelompok-kelompok warga dengan berbagai macam latar belakang tanpa dapat membedakan mana yang miskin dan kaya.

Baca juga: Pegida, Organisasi Anti-Islam di Jerman, Resmi Ditetapkan sebagai Kelompok ‘Ekstremis’ oleh Pemerintah Setempat

Setiap daerah dan negara memiliki tradisi Ramadhan yang beragam, mulai dari penyambutan hingga perayaan hari kemenangannya.

Di Mesir juga terdapat tradisi Ramadhan yang disebut ‘Maidah Rahman’ atau hidangan kasih-sayang. Maidah Rahman adalah hidangan makanan gratis bagi orang yang berpuasa. Tak hanya takjil, tapi juga makanan berbuka lainnya. Menunya pun bermacam-macam, bahkan ada yang sekelas hotel berbintang. Program ini merata di seluruh negeri Mesir dan berlangsung selama bulan puasa, tak jauh berbeda dari Sudan.

Ketika melaksanakan sahur, orang Sudan makan minum dengan ala kadarnya. Biasanya mereka hanya menyantap bubur-susu, atau ruzz-bil-laban. Hidangannya sungguh sederhana. Tapi perut orang Asia sedikit berbeda. Jadi mereka membutuhkan asupan yang berbeda pula.

Menu sahur ala anak Asia

Sebagian orang tidak siap dengan kesedarhanaan satu ini, tapi yang terpenting, sahurlah! Karena disampaikan Nabi dalam sabdanya bahwa di dalam sahur banyak terdapat berkah.

Sudan telah menjadi tempat yang mengandung banyak cerita Ramadhan bagi saya dan teman-teman. Semoga cerita yang saya sampaikan bisa bermanfaat untuk menambah wawasan para pembaca sekalian.

Terima kasih.

Ala-kulli hal. Taqaballahu Minna Waminkum.

Baca juga: Seperti Ini Kiat Mahasiswi Indonesia Puasa di Sudan Suhunya Capai 47 Derajat

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini