Dua Orang Tewas Setelah Banjir Bandang Terjang Italia

Italia, Kampartrapost.com – Banjir bandang telah menerjang wilayah Sisilia, Italia pada Selasa (26/10/2021) dan berhasil menewaskan setidaknya dua orang.

Melansir Europe News, hujan deras di wilayah kota Catania berhasil menutup seluruh akses jalan dan membuat warga setempat terjebak di rumah mereka.

Kantor presiden daerah, Nello Musumeci, mengkonfirmasi dalam sebuah pernyataan pada Selasa malam bahwa sudah ada dua korban dan satu hilang.

Tim penyelamat yang melakukan penyisiran di wilayah terdampak, telah menemukan mayat pria berusia 67 tahun yang terseret arus. Penemuan itu terjadi di kebun jeruk di Sisilia pada Senin (25/10/2021).

Baca juga: Para Astronom Temukan Exoplanet Pertama di Luar Galaksi!

Sementara itu, beberapa tim sukarelawan dan penyelamat masih berusaha untuk mencari kemana hilangnya istri si mayat pria. Petugas pemadam kebakaran mengatakan mobil pasangan itu terseret dua kilometer dengan kedalaman air dua meter yang disebabkan oleh hujan lebat.

“Situasi di Catania dan provinsinya sangat kritis,” kata Musumeci.

Semua bisnis yang tidak penting telah di perintahkan tutup hingga Kamis inklusif untuk mengurangi mobilitas karena daerah tersebut dalam keadaan waspada terhadap cuaca buruk.

Walikota Catania, Salvo Pogliese sementara ini telah menutup sekolah. Menurut pernyataan dari kantornya, dalam 48 jam jumlah hujan yang turun rata-rata sepanjang tahun telah turun di Catania.

Baca juga: Jalin Kerja Sama dengan Universitas Kwangwoon, YG Entertaiment Bakal Kembangkan Metaverse di Industri Hiburan?

Musumeci mengatakan dalam pernyataannya bahwa Sisilia timur sedang mengalami fenomena yang sedang mereka khawatirkan. Namun, fenomena ini akan jarang terjadi jika adanya penerapan skenario yang apik dalam menangani climate change.

“Perubahan iklim, kerapuhan wilayah dan kondisi ketidakstabilan sering terjadi akibat  campur tangan manusia. Ini termasuk faktor-faktor yang apabila di gabungkan maka hal ini akan membuat bumi semakin terancam,” tambahnya.

Dia menekankan bahwa otoritas regional telah menginvestasikan lebih dari 400 juta sejak 2018 untuk memerangi ketidakstabilan hidrogeologis. Selain itu ini juga untuuk memperkuat infrastruktur terhadap risiko tanah longsor dan erosi pantai.

Akan tetapi itu tidak cukup, itu tidak cukup untuk iklim yang dengan cepat menjadi tropis.

Baca juga: Dijual ke Eropa untuk menjadi pekerja seks: Kisah pelarian seorang penyintas

Berita Direkomendasikan

Berita Terpopuler