Lagi Viral Fitur ‘Add Yours’ di Instagram, Ini Kata Pakar Komunikasi UIR

Kampar, Kampartrapost.com – Lagi Viral fitur ‘Add Yours’ di media sosial Instagram yang sempat digandrungi netizen karena keseruannya, kini justru jadi boomerang.

Sebab, pengguna media sosial kerap memposting hal-hal bersifat privasi kepada khalayak. Sehingga, aktivitas seperti ini menjadi celah bagi oknum yang ingin melakukan tindak kriminal.

Pakar Komunikasi Dr. Harry Setiawan.,M.I.Kom, mengatakan kasus tersebut adalah bentuk kelalaian pengguna media sosial dalam beraktifitas di dunia maya. Untuk mengatasinya, maka pengguna media sosial dituntut untuk mengembangkan tingkat literasi digitalnya.

Baca juga: Suryani Isnoel, Guru Inspiratif asal Kampar yang Mendedikasikan Pendidikan Lewat Karya Buku

“Pada privasi-privasi, menjaga privasi data penting, data-data krusial, saya yakin negara sudah menyiapkan perangkatnya. Namun seringkali kita yang lalai menggunakan itu, contoh pada saat kita mengisi akun yang sifatnya hanya media sosial biasa kita memberikan data-data privasi kita di sana, dimana hal tersebut tentu saja rawan diretas,” kata dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Riau, ketika dihubungi via WhatsApp, Kamis (25/11).

“Lalu pada aktivitas-aktivitas digital lainnya, misalnya kita memposting sesuatu kita dengan sadar membuka privasi kita di khalayak. Nah, artinya proses bagaimana menjaga privasi itu juga harus bagian dari literasi digital yang harus terus dikembangkan oleh institusi pendidikan, oleh para pendidik, oleh para stakeholder atau regulator terkait ini,” lanjutnya.

Harry mengajak agar masyarakat harus bisa memahami dan memilah konten-konten apa saja yang boleh diposting di media sosial. Supaya masyarakat tidak menjadi korban kejahatan akibat ulahnya sendiri yang secara gamblang membeberkan privasinya kepada khalayak di media sosial.

Baca juga: Tak Lakukan Selebrasi Saat Menang Atas PSPS, Ilham Fathoni: Saya menghargai mereka

“Masyarakat juga perlu juga diberikan pemahaman terkait bahwa bisa membedakan mana yang privasinya ranahnya sangat privasi. Misalnya foto anaknya, atau foto dirinya, atau aktivitas dia sedang bepergian kemana itu tidak perlu untuk diposting,” jelasnya.

“Cuma yaitu menjadi salah satu tren, bahwa menjadi gaya baru dalam berkomunikasi perspektif media digital. Sehingga akhirnya kita yang secara sadar membuka batasan itu, sehingga pada saat itu terjadi kita bingung harus seperti apa.”

Apa itu FOMO?

Fomo (Fear of Missing Out) adalah takutnya seseorang ketinggalan hal-hal yang sedang updated seperti yang lagi viral yakni fitur ‘Add Yours´ yang sedang digandrungi oleh netizen Indonesia.

Dr. Harry Setiawan.,M.I.Kom, mengatakan Fomo menjadi suatu hal yang saat ini menjadi momok dan juga menjadi tren. Jika tidak mengikuti tren maka dianggap ketinggalan.

Untuk mengatasi Fomo ini atau yang bersifat tren yakni dengan mengukur kapasitas diri, mengukur kemampuan dan juga bagaimana cara pandang melihat kondisi sosial saat ini.

Baca juga: Terjun ke Metaverse, Nike Ciptakan ‘NIKELAND’ bersama Rolblox

Sementara itu, Harry memandang fitur ’Add Yours’ dari persepektif komunikasi informasi adalah bagian dari percepatan teknologi, bagian dari sinegritas netizen, bagian bagaimana harus bisa cerdas bersosial media.

Ia juga mengatakan tentunya Instagram tidak memiliki niat untuk memberi ruang tindak kejahatan, tapi bisa jadi kejadian ini adanya hanya di Indonesia.

Maka, ini menjadi PR bagi kementerian, institusi pendidikan untuk mencerdaskan anak muda dan seluruh masyarakat agar cerdas bersosial media.

Baca juga: Viral Fitur Add Yours di Instagram Bocorkan Data Pribadi, Ini Kata Meta

Terakhir, karena hari ini Kamis (25/11/2021) bertepatan dengan Hari Guru Nasional, dosen Ilmu Komunikasi itu menyampaikan pesan motivasi untuk para guru-guru di seluruh Indonesia.

“Untuk para guru di seluruh Indonesia tetap sabar, tetap semangat, insya allah apa yang dikerjakan itu menjadi amal ibadah. Kami murid-murid ibu bapak yang dahulu mungkin nakal, saat ini juga ikut berjuang di jalan yang sama dengan bapak ibu. Doakan kita semua sehat, kita semua tetap semanngat untuk mencerdaskan bangsa, karena bangsa yang cerdas bersumber dari guru yang cerdas,” tutupnya. (fw)

Berita Direkomendasikan

Berita Terpopuler