Menyesatkan orang lain dan merasa paling benar merupakan jalan dakwah?

Agama Islam merupakan agama yang membawa Rahmat bagi seluruh alam, bukan hanya untuk sesama manusia, akan tetapi juga membawa Rahmat untuk seluruh alam semesta, baik itu hewan, tumbuhan bahkan benda mati sekalipun.

Beberapa waktu lalu, kita masyarakat Kampar mendengar informasi mengenai seorang oknum ustad yang berdakwah dengan cara menyebutkan beberapa ormas Islam seperti Muhammadiyah, NU, jama’ah tabligh bahkan Perti yang merupakan organisasi mayoritas yang di masuki oleh masyarakat Kampar itu sendiri, di sebutnya dengan istilah “Firqoh Dollah” atau sekte sesat, yang di katakannya sebagai sekte yang tidak sesuai dengan jalan Al Qur’an dan Sunnah nabi.

Apakah jalan dakwah nya itu sesuai dengan ajaran nabi dan perintah Allah? Dan apakah statement yang dia keluarkan merupakan hal yang benar? Bahkan dia membawa nama ustad Abdul Somad dan kelompoknya yang di sebut sebagai seorang yang bodoh dan melarang orang lain mengambil ilmu dari beliau.

Sebelum kita memasuki pembahasan, kita semua sudah sepakat bahwa agama Islam adalah agama yang membawa Rahmat sebagaimana yang kita bicarakan di awal tadi, maka mustahil jika seorang mengaku membawa nama Islam, akan tetapi menyebabkan perpecahan di antara khalayak ramai, apalagi perpecahan di dalam agama Islam itu sendiri, maka jika kita temukan hal yang demikian itu, yang sepatutnya di salahkan dan di minta berubah itu adalah oknum atau pribadi orang tersebut, bukan islamnya.

Baca juga: Sidang Dugaan Korupsi Pembangunan Jalan Teluk Jering – Kampung Pinang Kampar Dimulai

Kembali ke pokok permasalahannya, hal yang pertama yang kita bahas di sini adalah, cara berdakwah yang dia bawa dalam menyerukan agama Allah SWT. Apakah hal tersebut sudah sesuai dalam tuntutan agama Islam itu sendiri atau bukan?

Di dalam berdakwah itu sendiri, Islam mengajarkan tatacaranya, karena Islam merupakan agama yang mengatur segala macam hal dalam kehidupan hambanya, bahkan adab masuk kedalam toilet saja di atur dalam Islam. Lantas bagaimana tatacara dan adab berdakwah di dalam Islam?

Di dalam Al Qur’an, Allah sudah menyebutkan bagaimana seharusnya seorang itu berdakwah dan mengajak orang lain ke dalam agama Allah. Sebagaimana firman Allah dalam Al Qur’an :

QS. An-Nahl:16:125

(Berdakwah lah kalian dengan mengajak kejalan Tuhan kalian dengan lemah lembut, contoh yang baik dan balaslah mereka (apabila melakukan perlawanan) dengan yang lebih baik)

Dalam ayat tersebut, kita mengetahui bahwa berdakwah tersebut memiliki 3 tingkatan yaitu, hikmah (lemah lembut), mauidzoh Hasanah (contoh yang baik), apabila kita di perangi baru kita membalasnya, bukan berarti kita langsung mengatakan dia kafir, wajib di bunuh, halal darahnya. Ataupun dengan mengatakan dia itu ahli neraka, pekerja bidah, kelompok sesat dll.

Dan yang paling di sini adalah dakwah dengan lemah lembut, karena dalam berdakwah itu, kita harus menyampaikan dakwah tersebut dengan akhlak dan lemah lembut, karena dakwah dengan akhlak tersebut itu lebih baik dan lebih berbekas di hati yang menerima dakwah tersebut, dari pada dakwah yang cuma mengandalkankan perkataan saja, oleh karena itu Rasulullah mengatakan di urutan pertama, apabila kita melihat suatu kemungkaran, hendaklah kita mencegahnya dengan perbuatan, kemudian apabila tidak sanggup, baru dengan ucapan dan yang terakhir dengan do’a.

Baca juga: Jalan Tol Pekanbaru-Bangkinang: Progres sudah mencapai angka 57 Persen

Jadi sekarang kita pertanyakan apakah sikap yang viral beberapa hari lalu itu sesuai dengan ajaran Islam? Dengan menggiring opini publik dan menanamkan kepercayaan bahwasanya ormas Islam yang sudah lebih tua dari ayahnya itu adalah ormas yang sesat. Siapa yang bisa terima di katakan sesat? Sedangkan Allah menyuruh kita di setiap sholat lima waktu agar berdoa supaya kita terhindar dari golongan yang sesat tersebut, di dalam surat Al Fatihah, dan tidak sah sholat seorang hamba jika tidak membacanya. Sangat di sayangkan seorang tokoh publik yang di pandang, mengeluarkan statement yang sangat tidak berilmu seperti itu, semoga Allah memberikan hidayah dan mengampuni dosanya.

Hal yang kedua adalah apakah statement dia tentang sesatnya ormas Muhammadiyah, NU, jama’ah tabligh dan Perti. Apakah ini benar?

Dalam ceramahnya, beliau mengatakan bahwasanya ormas tersebut termasuk firqoh Dollah atau sekte sesat. Disini saya akan mencoba untuk menerangkan apa itu sekte, ormas dan Mazhab, mungkin beliau belum faham yang di maksud dengan firqoh atau sekte di dalam Islam itu.

Rasul menyebutkan bahwasanya umat Islam itu akan terbagi menjadi 73 golongan, dan semuanya akan masuk kedalam neraka kecuali ahlussunah wal jama’ah, yang berpegang kepada Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw.

Akan tetapi apakah Muhammadiyah, NU, jama’ah tabligh dan Perti itu termasuk kedalam sekte tersebut?

Tentu kita harus mengetahui makna dari sekte yang di maksud tersebut, firqoh di sini merupakan golongan orang-orang yang melenceng dari Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah, lantas apakah ormas tersebut tidak berpedoman kepada Al Qur’an dan Sunnah? Tentu saja tidak, justru saya tidak dapat membayangkan bagaimana jadinya jika tidak ada ormas tersebut di kabupaten Kampar, apalagi Perti, entah bagaimana nanti jadi daerah kita ini dan Indonesia secara umum, jadi yang di maksud firqoh atau sekte di sini adalah mereka yang sudah melancong dari Al Qur’an dan Sunnah, seperti Syiah, Ahmadiyah dll.

Adapun jikalau perbedaan itu terdapat di dalam perbedaan amaliyah seperti qunut subuh, jahar basmalah, isbal, cadar dll itu nantinya masuk kedalam ikhtilaf fiqih yang merupakan furu’ atau cabang dari aqidah itu sendiri.maka hal hal tersebut akan masuk kedalam ikhtilaf dalam hal Mazhab, ada yang mewajibkan, mengharamkankan dsb, asalkan masih berada di dalam koridor Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah.

Baca juga: Heboh Ustaz Tuduh NU-Muhammadiyah Sesat, MUI Riau: Minta Maaflah

Dan yang terakhir itu adalah ormas, mereka ini hanya berbeda di dalam tatacara penyebaran dan dakwah Islam, akan tetapi mereka itu masih beramal dan beribadah berdasarkan dalil, maka suatu statement yang sangat tidak berilmu jikalau menyesatkan seorang yang masih di bawah Panji laa ilaaha illalllah.

Maka seharusnya seorang mubaligh itu harus mengajak dengan jalan sesuai Al Qur’an dan berlemah lembut, bukan melaknat dan menganggap hanya merekalah yang paling benar, apalagi yang mereka anggap benar itu berada dalam koridor ikhtilaf yang memang ranah mengeluarkan pendapat.

Semoga Allah memberinya hidayah, dan saya pribadi menunggu itikad pribadi beliau agar meminta maaf kepada pihak yang di rugikan agar tidak terjadi perpecahan di dalam umat Islam.

Semoga tulisan saya ini tidak berasal dari kebencian, karena saya juga hanya seorang manusia yang hina dan penuh dosa.

Berita Direkomendasikan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terpopuler