Menyingkap Wisata Sejarah Sepi Pengunjung

Oleh: Syafira Natasya 

Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas Andalas      

Padang, Kampartrapost.com – Jika mendengar kata ‘Padang’ ada banyak hal yang terlintas di benak kita. Misalnya, rumah makan padang, pantai, atau keripik balado.

Ternyata, selain daya tarik wisata kuliner atau alam, kota ini juga mempunyai daya tarik lain seperti wisata sejarah. Ada banyak wisata sejarah yang terdapat di Padang, salah satunya Museum Adityawarman.

Museum ini berada di jalan Diponegoro No. 10 Padang. Museum Adityawarman bisa menjadi salah satu museum yang wajib dikunjungi jika kita ke Padang, karena museum ini banyak menceritakan sejarah masyarakat Minangkabau.

Awalnya Museum Adityawarman didirikan pada tahun 1974 dan diresmikan pada 16 Maret 1977. Nama Museum Adityawarman sendiri diresmikan pada tanggal 28 Mei 1979 berdasarkan Surat Keputusan Menteri No. 093/0/1979.

Mungkin banyak yang kurang tau mengapa museum ini dinamakan Adityawarman. Sebenarnya, nama ini diambil dari nama salah seorang raja yang pernah berkuasa di Minangkabau pada abad ke-14.

Raja ini terkenal dengan kebijksanaan dan kecakapan dalam memerintah kerajaannya, sehingga inilah salah satu alasan mengapa museum ini diberi nama Adityawarman.

Nama Adityawarman pertama kali disebutkan pada sebuah patung yang ada di Candi Jago, Jawa Timur. Dalam kisahnya, ibu adityawarman bernama Dara Jingga merupakan putri dari kerajaan melayu di Dhamasraya.

Dara Jingga bersama adiknya Dara Petak ikut bersama tim Ekspedisi Pamalayu pergi ke tanah Jawa pada tahun 1293 M. Tidak lama setelah itu, ahli waris Kertanegara bernama Raden Wijaya menjadikan Dara Petak sebagai permaisurinya, sedangkan Dara Jingga menikah dengan seorang bangsawan Majapahit bernama Advajavarman dan kemudian kembali ke Dhamasraya.

Di Dhamasraya Adityawarman lahir dan tumbuh menjadi laki-laki yang gagah berani. Selang beberapa waktu kemudian, Adityawarman pergi ke Majapahit karena ia ingin melihat daerah kelahiran ayahnya.

Pada waktu itu, Adityawarman mendapat sambutan yang baik dari keluarga kerajaan Majapahit, ia dianggap saudara dari raja Jayawardana yang tidak memiliki putra. Selain itu, karena ia memiliki darah melayu membuatnya ditunjuk untuk menjadi pengendali daerah taklukkan Majapahit di Sumatera pada tahun 1339 M.

Setelah berhasil mendudukkan Tanah Melayu, ia justru memilih menanggalkan kesetiannya kepada Majapahit dengan menyatakan diri sebagai orang yang merdeka.

Adityawarman memilih kembali ke daerah asalnya untuk memindahkan pusat kerajaan di Dhamasraya ke sebuah situs dekat Pagaruyung di lembah Tanah Datar.

Namun, dari sumber lain mengatakan bahwa Adityawarman justru mendirikan kerajaan baru bernama Minangkabau di Pagaruyung, karena kerajaan Dhamasraya telah ada raja yang berkuasa dari keturunan Tribuanaraja Mauliwarmadewa.

Akan tetapi, dari beberapa prasasti peninggalan Adityawarman belum ada ditemukan kata-kata ‘Pagaruyung’. Hal yang sama juga dalam tambo pada masyarakat Minangkabau tidak ditemukan secara jelas nama raja mereka. Namun yang pasti Adityawarman memang menjadi raja di wilayah Pagaruyung berdasarkan salah satu prasastinya.

Akhirnya sejarah panjang tentang Aditywarman inilah yang diabadikan menjadi nama museum.

Sejak berdirinya hingga sekarang, Museum Adityawarman sudah mempunyai kurang lebih 6000 koleksi yang terbagi menjadi 10 kelompok, meliputi biologika, geologika/geografika, teknalogika, filologika, historika, etnografika, keramologika, seni rupa, numismatika/heraldika, dan arkaelogika.

Selain itu, di museum ini juga terdapat benda purbakala peninggalan Kerajaan Dhamasraya, berupa duplikat patung Amoghapasa dan patung Bhairawa. Dengan koleksi yang ada di museum ini membuat pengunjung akan merasakan suasana tanah minang di masa lalu.

Akan tetapi, keunikan koleksi-koleksi yang ada di dalam museum tersebut tidak juga membuat Museum Adityawarman ramai dikunjungi saat ini.

Padahal dari segi bangunan Museum Adityawarman, konsep yang diusung menyerupai rumah adat minangkabau dan lingkungan yang asri di tengah kota. Kemudian, koleksi yang dimiliki juga cukup lengkap dan menarik dilihat sebagai sarana edukasi. Lalu apa yang menyebabkan museum ini sepi pengunjung?

Setelah dianalisa, ternyata ada beberapa faktor yang membuat museum ini sepi. Pertama, produk wisata yang ditawarkan. Meskipun museum ini memiliki koleksi-koleksi yang banyak, akan tetapi ada beberapa koleksi yang seperti kurang terawat.

Hal ini dapat menimbulkan kurangnya ketertarikan dari wisatawan. Seperti yang kita ketahui, wisatawan museum ini bisa saja dari wisatawan domestik atau bahkan wisatawan mancaranegara. Dengan meningkatkan kualitas produk wisata tersebut dapat membuat wisatawan juga tertarik dan kembali mengunjungi museum ini.

Kedua, pemanfaatan media buying juga tidak ada. Media buying adalah pembelian ruang iklan sebagai ajang untuk campaign kepada masyarakat terkait suatu hal.

Jika museum adityawarman memanfaatkan hal ini, mungkin saja menjadi sarana mempersuasi pengunjung untuk dapat datang ke museum ini, sehingga Museum Adityawarman menjadi popular kembali.

Kemudian, mungkin saja jika mencari di laman pencarian terkait wisata yang wajib dikunjungi di Kota Padang bukan hanya wisata bahari saja, tetapi juga bisa muncul Museum Adityawarman sebagai salah satu pilihan.

Itulah seputar Museum Adityawarman. Jika anda berkunjung ke Padang, tidak ada salahnya untuk mengunjungi museum yang satu ini. Selain menambah ilmu, di museum ini juga bisa berfoto-foto, karena sangat banyak spot foto yang bagus bisa dijumpai. Namun jangan lupa untuk tetap menjaga nilai sejarahnya.

Berita Direkomendasikan

Berita Terpopuler