Nasi

“Dik, mari dipilih berasnya, langsung dari sawah kakak.”

“Wah, berapa harga berasnya kak?”

“Sepuluh ribu rupiah saja dik untuk 1 kilogram.”

“Kenapa murah sekali kak? He he he.”

“Loh, nanti kalau terlalu mahal adik tidak beli. He he he.”

“Kenapa iphone lebih mahal dari beras kakak?”

“Mmmh.. Karena iphone kan canggih bisa untuk internetan. Kalau beras mana bisa?”

“Oh..iya… Kalau berasnya bisa untuk internetan lebih mahal jelas ya kak daripada iphone.”

“Pastinya dik! He he he.. Berasnya saja tanpa bisa untuk internet buatnya sudah sulit.”

“Ha ha ha! Iya kak! Apalagi kalau tambah bisa untuk internetan ya, bagaimana cara buatnya?”

“Entahlah dik. He he he.”

“Kalau beras kakak bisa untuk internetan juga, bisa kenyang jasmani dan rohani sekaligus!”

“Ha ha ha..Betul dik!”

“Kakak punya iphone?”

“Oh tidak dik. Terlalu mahal. Lagipula apa butuhnya saya? Mengurusi yang dekat saja kurang waktunya. Duapuluh empat jam sehari rasanya kurang. Kenapa satu hari tidak saja empatpuluh delapan jam saja?”

“Iya juga ya kak. Siapa yang membuat ketentuan bahwa satu hari itu dua puluh empat jam?”

“Ah, pastinya bukan dari negeri kita!”

“Kenapa tidak kak? Mungkin saja sang pengambil keputusan itu si Otong, anak RT02.”

“Yah.. si Otong sudah berusia berapa ribu tahun dik?”

“Mungkin saja sudah dua millennium kak? Hehehe.”

“Mana ada orang yang umurnya dua ribu tahun? Biasanya juga belum genap delapan puluh tahun pun sudah dijemput.”

“Iya ya kak. Tapi maksud saya, memang kenapa tidak mungkin kalau dari RT ini?”

“Negeri kita saja umurnya belum sampai seratus tahun. Bagaimana bisa dari RT kita? Bukankah kata RT saja baru dipakai setelah negeri ini lahir? Sebelumnya tidak ada RT kan?”

“Betul juga, entah kata apa yang mereka gunakan sebelumnya ya. Bagaimana mereka, orang-orang di masa lampau sebelum bahasa ini digunakan disini menyebut konsep ini?”

“Tentunya tidak penting. Tidak bisa dimakan dik!”

“Betul juga. Kalau tidak bisa dimakan, tidak penting ya kak?”“Ya! Untuk apa? Kalau tidak bisa dimakan, tidak bisa membuat kita melangsungkan hidup.”

“Kalau tidak melangsungkan hidup memangnya kenapa kak?”

“Ya tidak boleh dik. Itu kan bertentangan sekali dengan ajaran Agama.”

“Apakah kakak setiap kali makan karena ingat ajaran Agama tersebut?”

“Tidak juga. Kenapa ya? Kita terus makan secara otomatis agar bisa hidup di kemudian hari.”

“Kalau karena Agama, apakah sebelum zaman nabi manusia tidak makan kak?”

“Pasti saja makan dik. Kalau tidak, tidak mungkin ada nabi. Sebelum sang nabi ada, sudah ada banyak orang lain. Ada juga nabi-nabi lain sebelumnya.”

“Iya ya kak, mungkin sudah instingtual sebagai manusia untuk melanjutkan hidup.”

“Sepertinya begitu dik. Binatang pun juga seperti itu.”

“Jadi makan itu sangatlah penting ya kak? Bahkan hewan dan manusia pun bisa sependapat.”

“Betul. Yang tidak bisa dimakan tidaklah berguna.”

“Karena itu kak, saya bertanya kenapa beras yang kakak tawarkan lebih murah harganya dari iphone. Padahal iphone tidak bisa dimakan.”

“Yah. Kalau adik mau tikar berasnya dengan iphone, kakak tidak keberatan.”

“Loh kenapa tidak keberatan kak?”

“Kan iphone harganya jutaan, sedangkan beras ini satu kilogram hanya sepuluh ribu rupiah.”

“Apakah itu adil kak? Yang satu membuat tetap hidup, sedangkan yang satunya lagi dapat membuat mati jika dimakan.”

“Ya jangan dimakan iphonenya, adik.. He he he.”

“Iya kak. Apa kehidupan dan kematian setara harganya?”

“Tidak, hidup lebih berharga pastinya dik.”

“Kalau begitu, kenapa harga iphonenya lebih mahal dari beras?”

“Ya begitulah hidup dik. Banyak keanehan yang dikandungnya. Yang penting bisa murah, dan yang tidak penting bisa mahal. Di dunia nyata segalanya bisa terjadi dik. Terlebih lagi di negeri ini semua terbolak-balik. Seperti tergulung gulung ombak!”

“Pusing ya kak. He he he.”

“Iya! Pusing entah berapa keliling! Ha ha ha.”

“Ini beras dari sawah kakak?”

“Betul dik, saya bersama keluarga sendiri yang mengerjakannya sampai jadi beras seperti ini. Buah-buah dari keringat kami! Apapun yang hasilnya dari keringat sendiri, lebih berharga di mata kami disbanding beras-beras yang lain.”

“Kalau begitu kenapa kakak jual beras ini murah? Tidak seperti iphone?”

“Tidak bisa dik.. Orang-orang tidak membeli. Nanti kakak makan apa?”

“Beras kak? Kan kakak memiliki banyak beras?”

“Kakak kan perlu keperluan lain untuk makan. Jika makan hanya nasi tanpa apapun pastinya hambar rasanya. Setidaknya perlu cabai, garam, dan gula. Lebih baik lagi jika ditambah lauk dan pauk. Memang bisa untuk melangsungkan kehidupan, tetapi jika hanya bertahan hidup, apakah bedanya hidup dengan rasa hambar dari nasi semata? Itulah mengapa butir-butir hasil keringat ini ditukarkan dengan uang untuk cabai, garam, gula dan lauk pauk.”

“Apa banyak yang beli berasnya kak?”

“Namanya juga berjualan dik, tidaklah menentu. Sehari yang lalu kami bisa makan 3 kali dengan telur sebagai lauknya. Hari ini masih hambar, semoga saja bisa makan dengan ikan sebagai lauknya!”

“Kalau saja kakak berjualan iphone daripada beras, pastinya 3x sehari dengan ikan.”

“Bukan itu saja dik, besok-besok pun akanlah sama. Dengan ikan! Atau bahkan ayam dan sapi setiap harinya. He he he. Yang tidak bisa dimakan itu!

Memberikan rasa pada kehambaran! Sampai di masa depan! Ya! Mungkin seperti itu dik? Kita berkeringat menghasilkan sesuatu yang penting, menjualnya untuk mendapatkan hal yang kurang penting. Tetapi hal yang kurang penting atau tidak penting ini, memberikan rasa pada hambarnya hidup. Mungkin seperti itu? Kehambaran hidup lebih murah harganya daripada hidup yang penuh rasa. Karena yang kurang penting atau yang tidak penting itu memberi rasa. Itulah mengapa iphone lebih mahal dari beras yang penting untuk keberlangsungan hidup dik? Beras memberikan kita kehidupan yang hambar. Hidup yang tidak nikmat. Mungkin insting manusia bukanlah saja untuk bertahan hidup, tetapi bertahan untuk kehidupan yang berwarna.”

“Duh.. Saya pusing kak.”

“Sama dik..”

“Sepertinya tidak masuk diakal saya kak. Mungkin akal saya kurang.”

“Ah adik, di negeri yang tidak masuk akal ini, sudahlah biasa. Saya sendiri tidak tahu apa akal negeri ini. Semakin saya percaya dengan akal saya, semakin negeri ini tidak masuk akal. Mungkin akal saya salah.”

“Mungkin akal saya juga salah kak.”

“Kalau menurut adik, apa yang masuk akal?”

“Menurut saya, yang masuk akal jika beras kakak lebih mahal daripada iphone. Beras kakak penting untuk keberlangsungan hidup secara langsung, walaupun hambar. Memang kehidupan yang hambar sepertinya kurang berharga dari yang penuh rasa. Tetapi jika tidak hidup, hambar dan rasa pun tidaklah bisa dikecap. Karena itu, yang paling penting adalah untuk bisa hidup dan merasa dahulu. Itulah yang terpenting. Dan yang penting lebih mahal dari yang tidak. Tetapi, mungkin saya salah kak.”

“Sejujurnya, akal saya juga mengatakan hal yang sama dik. Tetapi, hal ini tidaklah pernah terucap dari mulut saya. Apa kata orang-orang jika saya berkata demikian? Mungkin saya akan dianggap sebagai orang serakah?”

“Menurut kakak, apakah ada baiknya jika kali ini melakukan apa yang akal ini katakan? Satu kali ini saja?”

“Tentunya, itu terserah adik sendiri.”

“Baik kak. Saya beli 1 kilo beras kakak. Ini iphone dan sepuluh ribu rupiah.”

“Terima kasih dik.”“Terima kasih kak.”

Berita Direkomendasikan

Berita Terpopuler