Tak Digaji 2 Tahun, Guru Honorer di Garut Murka hingga Bakar Sekolah

Kampartrapost.com – Tidak mendapat gaji selama 2 tahun mengajar di sebuah SMP di Garut, seorang mantan guru honorer murka hingga membakar sekolah tempat ia bekerja dahulu.

Mantan guru dengan ininsial MA itu melangsungkan aksinya di SMPN 1 Cikelet.

Berselang 2 hari setelah melakukan aksi pembakaran sekolah, MA langsung diamankan pihak kepolisian usai melihat identifikasi rekaman CCTV di sekitar lokasi kejadian.

Sebelumnya MA sempat menjadi guru honorer dengan mengajar mata pelajaran fisika di SMPN 1 Cikelet pada tahun 1996 hingga 1998.

Tidak mendapat hak gaji selama bekerja di sekolah tersebut, MA sebelumnya sempat mendatangi sekolah beberapa kali.

Baca juga: Solo Resmi Menjadi Tuan Rumah ASEAN Para Games 2022, Gibran: Luar Biasa

Namun kedatangannya tersebut tak membuahkan hasil. MA tetap tidak mendapat hak gaji yang semestinya sudah ia terima beberapa tahun lalu.

Murka atas ketidakadilan yang ia dapatkan, MA akhirnya nekat membakar sekolah saat menjelang waktu shalat Dzuhur pada Jumat (14/1/2022).

MA melangsungkan aksinya menggunakan bensin, lalu membakar sejumlah pintu yang ada di sekolah.

Insiden yang disebabkan oleh MA langsung diketahui warga, yang mana akhirnya api dapat segera dipadamkan.

Adapun upah atas pekerjaan yang tidak diterima MA dari pihak sekolah selama ia mengajar berjumlah Rp.6 juta.

Baca juga: Lakukan Perlawanan, Korban Jambret di Pekanbaru Tewas Terjatuh dari Sepeda Motor

Atas perbuatan yang ia lakukan, MA dijerat pasal 187 ayat 1 huruf e, sesuai yang disampaikan oleh Kasat Reskrim Polres Garut AKP Dede Sopandi.

Ia dijatuhi ancaman hukuman kurungan penjara selama 12 tahun atas perbuatan berlandaskan dendam yang dilakukan.

Terkait aksi yang dilakukan MA, tak seidikit warganet yang yang memberikan pendapat dan kecaman pada sekolah tempatnya mengajar.

Kesejahteraan guru harus menjadi prioritas, untuk itu kejadian seperti yang dilakukan oleh MA tidak akan terjadi, kata seorang warganet.

Ada pula yang mendukung aksi pelaku meskipun menyebabkan kerugian, karena pihak sekolah disebut tidak profesional dan tidak dapat memenuhi hak tenaga pengajar.

Berita Direkomendasikan

3 KOMENTAR

Komentar ditutup.

Berita Terpopuler