Skip to content
-
Subscribe to our newsletter & never miss our best posts. Subscribe Now!

Mata Kampar untuk Dunia

Mata Kampar untuk Dunia

  • Kampar
  • Daerah
  • Internasional
  • Diaspora Kampar
  • Nasional
    • Pendidikan
    • Entertainment
    • Sejarah
    • Teknologi
  • Olahraga
    • Bola
  • Opini
  • Politik
  • Riau
  • Sumbar
  • Kampar
  • Daerah
  • Internasional
  • Diaspora Kampar
  • Nasional
    • Pendidikan
    • Entertainment
    • Sejarah
    • Teknologi
  • Olahraga
    • Bola
  • Opini
  • Politik
  • Riau
  • Sumbar
Close

Search

Trending Now:
5 Essential Tools Every Blogger Should Use Music Trends That Will Dominate This Year ChatGPT prompts – AI content & image creation trend Ghibli trend – viral anime-style visual trend
  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Subscribe

Mata Kampar untuk Dunia

Mata Kampar untuk Dunia

  • Kampar
  • Daerah
  • Internasional
  • Diaspora Kampar
  • Nasional
    • Pendidikan
    • Entertainment
    • Sejarah
    • Teknologi
  • Olahraga
    • Bola
  • Opini
  • Politik
  • Riau
  • Sumbar
  • Kampar
  • Daerah
  • Internasional
  • Diaspora Kampar
  • Nasional
    • Pendidikan
    • Entertainment
    • Sejarah
    • Teknologi
  • Olahraga
    • Bola
  • Opini
  • Politik
  • Riau
  • Sumbar
Close

Search

Trending Now:
5 Essential Tools Every Blogger Should Use Music Trends That Will Dominate This Year ChatGPT prompts – AI content & image creation trend Ghibli trend – viral anime-style visual trend
  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Subscribe
Home/Opini/Saat KPI Membungkam Fakta, Demokrasi Mati Pelan-Pelan
Saat KPI Membungkam Fakta, Demokrasi Mati Pelan-Pelan
Opini

Saat KPI Membungkam Fakta, Demokrasi Mati Pelan-Pelan

By Rian Hadi Putra
05/09/2025 4 Min Read
0

Kampartrapost- Demokrasi ibarat panggung besar tempat rakyat menyuarakan aspirasi. Media berperan sebagai lampu sorot yang menyingkap wajah kekuasaan, memperlihatkan denyut kehidupan masyarakat, sekaligus mengingatkan bahwa kebenaran tidak boleh tersembunyi.

Namun, apa jadinya bila sorot itu padam? Apa jadinya jika layar televisi, yang seharusnya menjadi ruang percakapan publik, justru membisu karena pihak berkuasa menganggap fakta terlalu berisik?.

Inilah dilema ketika Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) menjalankan perannya. Negara membentuk KPI sebagai pengawas independen untuk memastikan konten siaran sesuai norma, moral, dan hukum.

Prinsipnya, KPI bukan lembaga sensor, melainkan pengawal penyiaran yang menegur, memberi sanksi, hingga menghentikan tayangan yang melanggar Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) (Diskominfo Bogor, 2023).

Layar Mati Demokrasi

Namun, kebijakan KPI sering menimbulkan kesan bahwa mereka lebih sibuk “menghaluskan layar” daripada melindungi kebenaran. KPI kerap memangkas fakta, bukan melindungi hak publik untuk memperoleh informasi akurat padahal informasi itulah fondasi demokrasi.

Ironisnya, alih-alih menampilkan realitas, KPI justru memaksa media membisu atau menutupi fakta yang dianggap “terlalu berisik.” Fenomena ini menciptakan “Layar Mati Demokrasi”: cahaya yang seharusnya menerangi panggung publik redup, digantikan kesunyian yang mencekam.

Kontroversi yang terus melingkupi kebijakan KPI berulang kali menunjukkan kelemahan lembaga ini dalam menjalankan wewenangnya (The Jakarta Post, 2021).

Alih-alih menjadi pelindung demokrasi, KPI sering tampil sebagai penjaga moral penyiaran yang menuai polemik.

Masalah Utama: Penghapusan Fakta

Masalah terbesar penyiaran bukan terletak pada tayangan kekerasan fisik semata, melainkan pada penghapusan fakta yang tidak menyenangkan. KPI berulang kali memangkas tayangan investigasi, menegur kritik tajam terhadap kekuasaan, atau menghentikan laporan tentang ketidakadilan dengan dalih “tidak sesuai norma” (Tirto.id, 2021).

Padahal, realitas pahit tetap bagian dari kehidupan yang publik berhak ketahui. Menutupinya sama saja membuat masyarakat buta terhadap kebenaran.

Suara Sastrawan

Sastrawan W.S. Rendra pernah menulis, “Bila rakyat tidak berani lagi menyampaikan pendapat, maka sebenarnya bangsa ini sedang sakit.” Kutipan ini terasa relevan dengan kondisi penyiaran kita hari ini.

Kematian demokrasi tidak selalu hadir lewat kekerasan fisik, melainkan lewat kekerasan simbolik: ketika penguasa menyingkirkan fakta, mengecilkan suara kritis, dan menyulap realitas yang kompleks menjadi tontonan steril. Praktik ini membunuh ruang diskusi publik dan menggerogoti fondasi demokrasi (The Jakarta Post, 2021).

Simfoni Demokrasi

Demokrasi menyerupai simfoni dengan nada harmonis sekaligus disonan. Namun, ketika KPI hanya mengizinkan nada-nada “indah,” simfoni kehilangan esensi.

Alih-alih menghasilkan komposisi utuh, yang tersisa hanyalah alunan hambar tanpa makna.

Perspektif Islam

Sebagai mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam, saya percaya media bukan sekadar alat hiburan, melainkan amanah dakwah dan ruang vital pertukaran gagasan. Islam menekankan kejujuran dalam komunikasi, sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah Al-Ahzab ayat 70: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.”

Ayat ini menegaskan pentingnya keberanian menyampaikan fakta. Menghapus fakta dari layar media sama dengan mengabaikan amanah suci untuk bertindak jujur dan benar.

KPI sering bersembunyi di balik dalih “regulasi” untuk membenarkan tindakannya. Benar, regulasi penting agar media tidak liar, vulgar, atau menjual sensasi murahan.

Namun, regulasi tidak boleh berubah menjadi represi. Regulasi seharusnya melindungi publik dari kebohongan dan disinformasi, bukan menghapus fakta yang mengganggu penguasa.

Kritik Akademisi

Bahruddin (2020) menyebut bahwa tantangan terbesar regulasi penyiaran di era konvergensi media ialah menjaga keseimbangan antara perlindungan publik dan kebebasan berekspresi.

Jika pengawasan terlalu ketat, media kehilangan fungsi sebagai pilar keempat demokrasi, dan ruang publik menyempit. Hal ini sejalan dengan pendapat Prof. Saldi Isra, Guru Besar Hukum Tata Negara Universitas Andalas, yang menegaskan bahwa demokrasi tidak boleh alergi terhadap kritik. Dalam sebuah diskusi publik, ia menyatakan: “Demokrasi hanya bisa tumbuh jika suara-suara berbeda diberi ruang, bukan dibungkam.”

Di balik gemerlap layar kaca, kita menyaksikan tragedi paling ironis: penguasa menghapus fakta dan membungkam publik.

Korban utamanya adalah kelompok minoritas, para pejuang keadilan dari pinggir republik, serta mereka yang berani mengkritik sistem.

Media, yang seharusnya menyalurkan suara mereka, justru berubah menjadi cermin dingin yang hanya memantulkan wajah-wajah yang sejalan dengan narasi penguasa.

Akhirnya, kita berhadapan dengan pertanyaan pedih: Apakah kita akan membiarkan demokrasi berubah menjadi monolog kosong, di mana hanya segelintir suara yang berkuasa, sementara jeritan nurani rakyat mati dalam kesunyian?.

Pertanyaan ini bukan sekadar refleksi, tetapi dakwaan terhadap sistem yang gagal melindungi kebebasan berekspresi.

Mahasiswa Menolak Bungkam

Sebagai mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam, saya menolak untuk bungkam. Saya memandang media bukan sebagai komoditas, melainkan sebagai amanah suci yang kini dikhianati.

KPI, yang seharusnya mengawal demokrasi, kini menjelma menjadi penjaga pintu yang patuh pada kekuasaan dan menolak fakta memasuki ruang publik.

Ironinya, KPI menutupi kebobrokan dengan jubah regulasi, lalu mengorbankan nurani demi kepentingan sempit.

Gus Dur pernah berpesan, “Yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan.” Pandangan ini menjadi tamparan keras bagi media kita hari ini.

Media seharusnya tidak sekadar mengabdi pada regulasi kaku, tetapi berpihak pada manusia terutama pada suara yang lemah dan fakta yang sering disembunyikan.

“Layar mati demokrasi” tidak selalu berarti layar hitam. Kadang layar tetap menyala terang, tetapi hanya menampilkan hiburan hambar, gosip murahan, atau berita ringan tanpa substansi.

Di balik cahaya palsu itu, KPI memadamkan fakta yang krusial. Inilah kematian demokrasi yang paling sunyi: tanpa darah, tanpa teriakan, hanya kesenyapan fakta yang tertutup oleh kebisingan tak berarti.

Menyalakan Kembali Layar Demokrasi

Kita harus menolak panggung kosong ini. Kita harus menyalakan kembali layar demokrasi bukan dengan sensasi murahan, melainkan dengan keberanian menyiarkan kebenaran, sejalan dengan perintah agama untuk berkata jujur.

Sebab, pada akhirnya, demokrasi tanpa fakta hanyalah panggung kosong, dan rakyat hanyalah penonton yang tertipu.

Penulis: Putra Rahmadani

Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Imam Bonjol

Follow Instagram Kampartrapost

Tags:

BahruddindemoDemokrasi ibarat panggung besar tempat rakyat menyuarakan aspirasiKomisi Penyiaran IndonesiaKPImahasiswa Komunikasi dan Penyiaran IslampenguasaSastrawan W.S. Rendra
Author

Rian Hadi Putra

Follow Me
Other Articles
Antara Pemikiran Bajak Laut dan Pemerintah: Mana yang Lebih Baik?
Previous

Antara Pemikiran Bajak Laut dan Pemerintah: Mana yang Lebih Baik?

Timnas Futsal Indonesia Taklukkan Kamboja dengan Skor 5-1
Next

Timnas Futsal Indonesia Taklukkan Kamboja dengan Skor 5-1

No Comment! Be the first one.

    Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Hey, I’m Alex. I build frontend experiences and dive into tech, business, and wellness.
    • X
    • Instagram
    • Facebook
    • YouTube
    Work Experience

    Velora Labs

    Frontend Developer

    2021-present

    Luxora Digital

    Web Developer

    2019-2021

    Averion Studio

    Support Specialist

    2017-2019

    Available for Hire
    Get In Touch

    Recent Posts

    • Semangka Terakhir Frida : Tentang Hidup Yang Semantara
      oleh Siti Ulami
      11/03/2026
    • PLN Dukung Penuh Upaya Pemerintah Dalam Mengatasi Perubahan Iklim
      PLN Dukung Penuh Upaya Pemerintah Dalam Mengatasi Perubahan Iklim
      oleh Fadhlil Wafi
      17/09/2024
    • BPJN Berikan Solusi Lalin Sumbar-Riau
      BPJN Berikan Solusi Lalin Sumbar-Riau
      oleh M. Afif Wafri
      17/09/2024
    • Mesin Pompa dan Saluran Baru Surutkan Banjir di Lapangan Tembak PON XXI Aceh-Sumut.
      Mesin Pompa dan Saluran Baru Surutkan Banjir di Lapangan Tembak PON XXI Aceh-Sumut 2024
      oleh Yuwanda Efriantii
      17/09/2024

    Search...

    Technologies

    Figma

    Collaborate and design interfaces in real-time.

    Notion

    Organize, track, and collaborate on projects easily.

    DaVinci Resolve 20

    Professional video and graphic editing tool.

    Illustrator

    Create precise vector graphics and illustrations.

    Photoshop

    Professional image and graphic editing tool.

    Mata Kampar untuk Dunia

    • X
    • Instagram
    • LinkedIn

    Latest Posts

    • Yonbekpal 1 Sajikan Makanan Gratis dalam Rangka Expo HUT ke-79
      Kampartra Post- Batalyon Perbekalan dan Peralatan 1 Marinir (Yonbekpal 1 Mar)… Baca Selengkapnya: Yonbekpal 1 Sajikan Makanan Gratis dalam Rangka Expo HUT ke-79
    • Wolfsburg Pecahkan Kebuntuan, Singkirkan Dortmund di DFB Pokal dengan Drama Menegangkan!
      Kampartrapost_Wolfsburg berhasil mengalahkan Borussia Dortmund dalam laga DFB Pokal di… Baca Selengkapnya: Wolfsburg Pecahkan Kebuntuan, Singkirkan Dortmund di DFB Pokal dengan Drama Menegangkan!
    • WNI Ditahan Polisi Jepang Karena Lakukan Pelecehan Seksual
      Kampartrapost – Seorang Warga Negara Indonesia (WNI) ditahan pihak kepolisian Jepang… Baca Selengkapnya: WNI Ditahan Polisi Jepang Karena Lakukan Pelecehan Seksual
    • Tentang Kami
    • Redaksi
    • Info Iklan
    • Pedoman Media Siber
    • Stories
    • Kontak

    Kontak

    WhatsApp

    +62 881-0244-26575 (Ayuu)

    Email

    marketing@kampartrapost.com

    Lokasi

    Bangkinang Kota, Riau, Indonesia

    Copyright 2026 — . All rights reserved. Blogsy WordPress Theme