
Pinggang Marapi, Pagi Memiliki Parangainya Sendiri
Kampartrapost– An-nahl Berdampak, Basamo Mangko Manjadi, Bakarya Untuak Nagari. Slogan KKN-52 UIN IB Nagari Tabek Patah
If you want to know a person’s true character, live with them.
Jika ingin mengetahui karakter seseorang yang sebenarnya, tinggallah bersamanya.
— Maheswari
Di pinggang Gunung Marapi, pagi datang dengan cara yang berbeda.
Udara tidak sekadar menjadi udara. Ia menyentuh kulit, masuk melalui celah jendela, lalu tinggal lebih lama daripada yang diperkirakan.
Bagi tubuh yang sehari-hari akrab dengan Padang serta julukan angek badangkang-nya panas yang seolah enggan memberi jarak dingin Tabek Patah mula-mula terasa seperti tamu yang belum dikenal.
Namun tiga puluh hari cukup untuk membuat tamu itu berubah menjadi bagian dari keseharian.
Pagi tidak datang oleh hiruk-pikuk kendaraan atau lapau yang sejak subuh dipenuhi percakapan.
Pagi justru bergerak lebih dahulu menuju ladang.
Kehidupan Tabek Patah
Rumah-rumah boleh tampak sunyi, tetapi kesunyian itu menipu. Di balik pintu yang tertutup, kehidupan telah berangkat lebih awal.
Orang-orang menapaki jalan menuju kebun, sawah, dan ladang. Bahu-bahu mulai ditekuk, tangan-tangan bekerja, tanah disentuh dengan ketekunan yang tidak membutuhkan sorak-sorai. Bagi masyarakat di sana, hidup bukan perkara menunggu hari menjadi mudah.
Hidup adalah tentang membuatnya tetap berjalan. Itulah salah satu kejutan pertama kami sebagai Mahasiswa UIN Imam Bonjol Padang yang diamanahkan untuk mengabdi di Nagari Tabek Patah, Tanah Datar.
Sebagai seseorang yang tumbuh dengan ritme kota, ada kebiasaan-kebiasaan yang tanpa sadar kubawa ketika datang.
Pagi terasa seperti waktu untuk mencari sarapan, menyapa tetangga, atau menemukan warung yang mulai membuka pintu.
Di Tabek Patah, harapan semacam itu harus disesuaikan. Warung sarapan tidak selalu mudah ditemukan, rumah-rumah tidak selalu ramai, dan warga yang hendak ditemui sering kali sedang berada jauh dari halaman rumahnya.
Bukan karena mereka enggan menerima kedatangan, melainkan karena pagi memiliki urusan yang lebih mendesak, ladang harus dikerjakan sebelum matahari meninggi.
Maka waktu pun mengajarkan kami untuk menyesuaikan diri.
Pertemuan dengan masyarakat sering baru menemukan waktunya ketika senja selesai.
Sosialisasi berlangsung setelah warga pulang berkebun. Percakapan yang ingin kami mulai pada pagi hari harus menunggu petang.
Dari sana, sebuah pemahaman tumbuh perlahan bahwa sebelum membawa program kepada masyarakat, terlebih dahulu kita harus memahami bagaimana masyarakat menjalani hidupnya.
Barangkali pengabdian memang tidak dimulai dari seberapa banyak rencana yang dibawa, tetapi dari seberapa bersedia seseorang menundukkan dirinya untuk mendengarkan.
Follow Instagram KampartraPost
Di tengah kehidupan yang telah memiliki iramanya sendiri itu, datang kami sekumpulan mahasiswa UIN Imam Bonjol Padang dengan koper, ransel, program kerja, dan bayangan tentang tiga puluh hari yang akan dijalani.
Kami datang membawa pengetahuan dari ruang kuliah, membawa nama almamater, dan membawa keyakinan bahwa ilmu seharusnya tidak berhenti sebagai teori yang tersimpan di catatan.
KKN membuat semua yang selama ini terasa konseptual menemukan ruang untuk diuji.
Ada ekspektasi yang melekat pada mahasiswa kampus Islam ketika datang ke tengah masyarakat. Bukan sekadar membantu kegiatan sosial, tetapi juga membawa ilmu agama kembali ke tengah kehidupan.
Masyarakat berharap mahasiswa UIN dapat ikut meramaikan surau dan masjid, menemani anak-anak membaca Al-Qur’an, menghidupkan kegiatan keagamaan, serta meneruskan pengetahuan yang mungkin selama ini hanya kami jumpai dalam ruang pembelajaran.
Di situlah mengajar mengaji menjadi lebih dari sekadar agenda.
Setiap sore dan malam, ketika ladang telah ditinggalkan dan langkah-langkah warga mulai kembali ke rumah, anak-anak datang membawa suara mereka masing-masing.
Ada yang telah lancar membaca, ada yang masih mengeja dengan terbata, ada yang sibuk mengingat hafalan, ada pula yang datang dengan energi yang seolah tidak mengenal kata lelah.
Di antara suara kecil itu, Al-Qur’an tidak lagi terasa seperti sekadar bahan ajar. Ia menjadi perjumpaan.
Mengajar mereka mengajarkan kesabaran dengan cara yang paling sederhana. Satu huruf yang salah tidak dapat diselesaikan dengan tergesa-gesa.
Satu hafalan yang belum melekat tidak dapat dipaksa selesai dalam satu malam. Ada ilmu yang hanya dapat tumbuh jika diberikan bersama ketekunan.
Masyarakat pun mengingatkan bahwa kehidupan beragama di Minangkabau memiliki akar yang panjang.
Ada ungkapan adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah adat bersendi syariat, syariat bersendi Kitabullah. Nilai itu tidak hanya terdengar sebagai semboyan, tetapi terasa dalam cara surau, masjid, keluarga, dan pendidikan agama menempati ruang dalam kehidupan masyarakat.
Di tempat seperti itu, kehadiran mahasiswa UIN menemukan makna yang berbeda. Kami bukan datang sebagai orang-orang yang merasa paling tahu.
Justru masyarakat membuat kami sadar bahwa ilmu yang kami bawa hanyalah sebagian kecil dari pengetahuan yang dibentuk oleh pengalaman hidup.
Perjalanan berikutnya membawa kami ke UPT SDN 18 Tabek Patah.
Ruang kelas mempertemukan kami dengan dunia yang lebih kecil, tetapi tidak berarti lebih sederhana.
Anak-anak memiliki cara sendiri untuk memandang orang dewasa.
Mereka tidak selalu membutuhkan penjelasan yang panjang.
Kadang mereka hanya ingin didengar, diajak berbicara, atau diberi ruang untuk bertanya.
Kami datang untuk mengajar, tetapi sekolah itu perlahan mengubah posisi kami.
Guru bukan hanya mereka yang berdiri di depan kelas.
Kadang seorang anak yang bertanya dengan polos justru sedang mengajari kita tentang cara melihat sesuatu tanpa prasangka.
Kadang kegaduhan kecil di kelas menjadi pengingat bahwa belajar tidak selalu harus berlangsung dalam suasana yang sempurna.
Ilmu yang selama ini kami pelajari di kampus akhirnya bertemu dengan manusia yang nyata. Metode, komunikasi, kesabaran, cara menyampaikan pesan, semuanya harus berhadapan dengan keadaan sebenarnya.
Di sanalah teori berhenti menjadi sekadar tulisan dan mulai menemukan bentuknya.
Rumah Adat Gonjong
Namun jika ada satu ruang yang paling banyak menyimpan cerita, mungkin rumah gonjong adalah jawabannya.
Rumah itu berdiri bak bentuk yang segera mengingatkan pada identitas Minangkabau.
Gonjong yang menjulang, kayu yang menyimpan jejak usia, dan ruang-ruang yang menjadi saksi kehidupan membuat tempat itu terasa lebih dari bangunan.
Di sanalah posko perempuan berada. Di sanalah kami menghabiskan sebagian besar waktu ketika kegiatan di luar telah selesai. Rumah gonjong mengajarkan bahwa rumah tidak selalu ditentukan oleh lamanya seseorang tinggal.
Tiga puluh hari mungkin singkat jika berbanding dengan usia sebuah rumah adat. Namun di dalam waktu yang terbatas itu, banyak hal tumbuh.
Percakapan selepas kegiatan. Tawa yang muncul dari perkara sepele. Keluhan karena lelah. Cerita tentang rumah masing-masing.
Diam yang tidak lagi terasa canggung. Bahkan pertengkaran kecil yang setelahnya justru membuat kami semakin mengenal satu sama lain. Pada awalnya, kami hanya sekumpulan nama yang bertemu karena satu kelompok KKN.
Tidak ada yang tahu bagaimana kebiasaan orang lain ketika lelah, bagaimana seseorang menghadapi masalah, siapa yang paling mudah tertawa, siapa yang lebih banyak diam, atau siapa yang diam-diam selalu memastikan semua orang baik-baik saja.
Tiga puluh hari mengubah semuanya.
Pertemanan tumbuh bukan karena kami merencanakannya, tetapi karena keadaan memaksa kami berbagi ruang dan waktu.
Ada hari ketika semua orang memiliki tenaga.
Ada pula hari ketika satu orang harus menanggung lelahnya sendiri dan yang lain belajar memberi ruang. Perlahan, orang-orang asing itu menjadi wajah yang kami cari ketika pulang dari kegiatan.
Mungkin inilah bagian paling ganjil dari KKN waktunya singkat, tetapi kedekatannya sering kali melampaui perkiraan.
Ada sebuah kalimat yang pernah berulang kali berseliweran di TikTok: “KKN itu jahat.”
Kalimat itu terdengar seperti candaan sampai seseorang benar-benar mengalaminya. KKN mempertemukan orang-orang yang pada awalnya asing, lalu membuat mereka hidup dalam satu ruang, berbagi makanan, berbagi pekerjaan, berbagi tawa, bahkan berbagi lelah. Sedikit demi sedikit, kedekatan itu berubah menjadi rasa seperti keluarga.
Lalu, ketika semuanya mulai terasa akrab, tiga puluh hari selesai.
Pulang menjadi perkara lain.
Rumah gonjong kembali menjadi bagian dari lanskap Tabek Patah. Anak-anak kembali belajar bersama guru mereka.
Surau kembali menjalani ritmenya. Warga kembali kepada ladang dan kebun.
Jalan-jalan yang dahulu kami lewati setiap hari kembali menjadi jalan yang harus kami tinggalkan.
Mungkin lebih dari dua juta unggahan dari berbagai akun KKN dan mahasiswa berbagai perguruan tinggi mengulang perasaan yang serupa karena ada sesuatu yang memang sulit dari perpisahan semacam ini.
Bukan karena tempat itu sempurna. Bukan pula karena tiga puluh hari selalu mudah. Justru karena dalam waktu yang singkat, sebuah kehidupan kecil sempat terbentuk.
Kami datang ke Tabek Patah dengan niat untuk memberi.
Namun tanah, dingin, ladang, surau, sekolah, anak-anak, masyarakat, dan rumah gonjong ternyata lebih dahulu memberi pelajaran.
Ia menjadi ruang tempat banyak hal yang selama ini hanya kami bayangkan berubah menjadi pengalaman.
Tiga puluh hari telah selesai, tetapi tidak semua yang terjadi di dalamnya ikut selesai.
Kita dipaksa membangun kedekatan dengan orang-orang yang semula asing, merasa seperti keluarga, kemudian harus pulang kepada realitas masing-masing.
Barangkali benar.
KKN memang sedikit jahat.
Sebab ia mengajarkan kita menemukan rumah di tempat yang tidak pernah kita rencanakan, lalu mengajarkan pula bagaimana rasanya meninggalkan rumah itu.
Dan mungkin, itulah alasan mengapa pulang tidak lagi sesederhana kembali ke kota asal.
Sebab ada bagian dari diri yang masih tertinggal di sana di antara dingin pagi, tanah ladang, suara mengaji, bangku-bangku sekolah, kayu rumah gonjong, dan orang-orang yang selama tiga puluh hari menjadi rumah. Pada akhirnya, bukan tentang seberapa lama kita tinggal di sebuah tempat. Ada tempat yang cukup tinggal selama tiga puluh hari untuk dikenang seumur hidup.
Tabek Patah adalah salah satunya.