
Semangka Terakhir Frida : Tentang Hidup Yang Semantara
Kampartrapost- Pada tahun 1954, ketika tubuhnya tak lagi utuh dan sarafnya terus mengirimkan sinyal nyeri ke otak, Frida Kahlo melukis sesuatu yang sederhana: semangka.Semangka hanyalah jaringan tumbuhan yang sebagian besar terdiri dari air,sekitar 90% ditopang sel-sel yang suatu saat akan pecah, membusuk, dan kembali menjadi bagian dari siklus materi.
Tidak ada yang abadi di dalamnya, sebagaimana tidak ada sel manusia yang mampu menolak hukum degenerasi.Namun manusia memiliki korteks prefrontal, bagian otak yang memberi kemampuan untuk menyadari akhir, dan justru karena kesadaran itu, menciptakan makna.
Semangka-semangka itu terbelah, memperlihatkan merah yang menyerupai darah, cairan yang dalam tubuh manusia mengangkut oksigen, menjaga neuron tetap aktif, menjaga kesadaran tetap menyala untuk beberapa waktu yang terbatas.
Hidup hanyalah proses metabolisme: pertukaran energi untuk menunda kematian, adalah kesediaan untuk tetap mengatakan “ya,” meski kehancuran sudah pasti.
Dengan tangan yang melemah, Frida menuliskan dua kata di atas daging buah itu: Viva la Vida.
Sebuah kalimat yang bukan penyangkalan terhadap kematian, melainkan pengakuan terhadapnya. Bahwa setiap sel memiliki batas replikasi, setiap detak jantung adalah peristiwa sementara, kesadaran manusia, yang lahir dari impuls listrik sepanjang neuron, suatu hari akan sunyi.
Dan justru karena itu, kehidupan menjadi bernilai.
Seperti semangka yang telah terbelah namun masih memancarkan warna paling merah, manusia pun, bahkan di ambang akhir, masih mampu menjadi saksi bagi keberadaannya sendiri, sebuah organisme yang, untuk sesaat di tengah alam semesta yang dingin, diberi kemampuan untuk hidup, merasakan, dan berkata: aku ada.