Press "Enter" to skip to content

Brimob Jadi Sorotan, Dari Penjaga Keamanan hingga Simbol Kematian

Kampartrapost_Demonstrasi besar mengepung Polda Metro Jaya pada Jumat sore, mahasiswa dan pengemudi ojol menuntut keadilan atas tragedi memilukan.

Affan Kurniawan, driver ojek online, meninggal mengenaskan setelah tubuhnya dilindas mobil rantis Brimob saat kerusuhan 28 Agustus.

Massa memenuhi kawasan Gatot Subroto hingga Sudirman, berteriak lantang menyebut aparat sebagai pembunuh, menciptakan suasana Jakarta semakin mencekam.

Polisi menjaga ketat area, tetapi situasi memanas ketika massa melempari batu, botol, hingga merusak kendaraan dinas Provos yang terparkir.

Tidak hanya di Polda Metro, unjuk rasa juga merebak ke Mabes Polri, massa menuntut penindakan tegas terhadap oknum Brimob pelaku.

Follow Instagram Kampartrapost_

Kapolda Metro Irjen Asep Edi Suheri menyampaikan permintaan maaf, berjanji menindak tegas pelanggaran serta memastikan proses hukum berjalan.

Asep bahkan hadir di pemakaman korban, menyampaikan belasungkawa, namun janji tersebut tidak cukup meredam amarah ribuan demonstran.

Sorakan Pembunuh Menggema di Depan Markas Polisi

Warga sekitar pun ikut mengecam, dari JPO depan Polda, mereka menyoraki polisi yang menyerang balik massa menggunakan bambu brutal.

Pembunuh, pembunuh,” teriak warga lantang, mempermalukan aparat di markasnya sendiri, membuat citra Brimob kian tercoreng di publik.

Bentrokan semakin ricuh, massa mengepung mobil Sabhara dan merusak sedan Corolla Altis milik Provost hingga kaca berhamburan.

Tujuh anggota Brimob langsung diamankan, berinisial Kompol C, Aipda M, Bripka R, Briptu B, Bripda M, Baraka Y, dan J.

Kini mereka menjalani sidang etik terbuka, disiarkan langsung di media sosial, meski publik masih meragukan ketegasan proses hukum.

Di jagat maya, ribuan warganet melampiaskan amarah melalui tagar #PolisiPembunuh dan #Meninggal, menjadikan kasus ini viral se-Indonesia.

Video amatir memperlihatkan jelas mobil rantis Brimob melindas korban, berhenti sejenak, lalu kabur meninggalkan tubuh tergeletak.

Peristiwa di Pejompongan, Jakarta Pusat itu memperlihatkan aparat bertindak bak mesin pembunuh, bukannya pelindung rakyat sebagaimana seharusnya.

Rekaman warga menampilkan detik-detik mengerikan, saat korban berlari menghindari kerumunan justru terlindas ban berat kendaraan taktis.

Teriakan panik terdengar jelas, “Ya Allah, keinjek,” menggema, memperlihatkan trauma mendalam masyarakat terhadap arogansi aparat bersenjata.

Ironisnya, Brimob kini bukan hanya polisi, tetapi juga merebut profesi baru, pembunuh berdarah dingin di jalanan Jakarta.

Masyarakat menuntut keadilan nyata, bukan sekadar permintaan maaf, agar tragedi Affan Kurniawan tidak menjadi lembar kelam tanpa penyelesaian.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *