
Dari Haarlem ke Deli
Kampartrapost- Setelah Tan pulang menyelesaikan pendidikannya di Haarlem, Belanda, pada tahun 1919.
Ia memilih singgah di Deli, Sumatera Utara, untuk menjadi seorang guru bagi para buruh di sana, suatu kerendahan hati yang luar biasa.
Kondisi Deli (1919–1921), GOUDLAND, tanah emas, surga bagi kaum kapitalis.
Tetapi tanah keringat air mata maut, neraka untuk kaum proletar.
Tan melihat betapa terjajahnya masyarakat di sana, baik dari segi sumber daya alam maupun pola pikir.
Para buruh yang belum memahami nominal uang, menerima gaji dalam jumlah yang bahkan mereka sendiri tidak mengetahui nilainya.
Suatu waktu, Dr. Janssen mengundang Tan untuk menghadiri forum rapat para petinggi Belanda di Deli saat itu.
Amarahnya terhadap ketertindasan pendidikan di sana tak tertahankan.
Ia laksana seekor singa yang masuk ke kandang pemburu, bukan untuk menyerahkan diri, melainkan untuk menjelaskan bahwa hutan harus kembali menjadi milik para penghuninya.
Maka lahirlah tiga tujuan pendidikan:
“Bahwa maksud pendidikan ialah mempertajam kecerdasan, memperkukuh dan memperkokoh kemauan, serta memperhalus perasaan yang ditujukan kepada anak bangsa dari golongan siapa pun,” pidato Tan saat itu.
Sumber: Dari Penjara ke Penjara, karya Tan Malaka.
Rian Hadi Putra.