
Mochammad Fauzen, dari Penerima Beasiswa hingga Membuka Jalan Studi ke Luar Negeri
Jakarta, Kampartrapost – Pengalaman memperoleh sejumlah beasiswa dan menempuh pendidikan di berbagai negara mendorong Mochammad Fauzen, MA, MIP, membangun Global Future Solution (GFS). Sebagai Founder sekaligus CEO GFS, Fauzen kini mendampingi generasi muda Indonesia yang ingin melanjutkan pendidikan ke luar negeri.
Bagi sebagian anak muda Indonesia, keinginan melanjutkan pendidikan ke luar negeri sering kali tidak berhenti pada persoalan memilih universitas. Ada program studi yang perlu disesuaikan dengan tujuan akademik dan karier, dokumen yang harus dipersiapkan, peluang beasiswa yang perlu dicari, hingga berbagai persiapan sebelum berangkat.
Fauzen pernah melewati proses tersebut.
Ia merupakan alumni program master di The University of Birmingham, Inggris, sekaligus penerima Chevening Scholarship. Ia juga tercatat sebagai Master Awardee McGill University, Kanada, alumni program master di The University of Melbourne, Australia, serta penerima Australia Awards Scholarship.
Pengalaman belajar di sejumlah institusi pendidikan internasional membuat Fauzen memahami bahwa perjalanan menuju pendidikan luar negeri tidak sesederhana mendapatkan Letter of Acceptance (LoA) atau beasiswa. Ada proses seleksi, persiapan administrasi, tuntutan akademik, dan kemampuan beradaptasi dengan lingkungan baru.
Pengalaman itulah yang kemudian ia bawa ke dalam pekerjaan yang berbeda: membantu generasi muda Indonesia mempersiapkan perjalanan pendidikan internasional.
Membangun Global Future Solution sebagai Founder sekaligus CEO
Pengalaman di dunia akademik dan pendidikan internasional kemudian membawa Fauzen pada langkah berikutnya. Ia mendirikan Global Future Solution (GFS) dan kini menjalankan peran sebagai Founder sekaligus Chief Executive Officer (CEO).
GFS bergerak di bidang konsultasi pendidikan internasional, pendampingan beasiswa, persiapan studi luar negeri, dan aplikasi universitas.
Sebagai Founder sekaligus CEO, Fauzen membawa pengalaman yang diperolehnya selama menempuh pendidikan di berbagai negara dan berkiprah sebagai akademisi ke dalam pengembangan GFS.
Baca Juga: Tak Hanya Kisah Perjuangan, Maryo Zaini Soroti Narasi Pengkhianatan Datuk Tabano
Ia melihat banyak calon mahasiswa membutuhkan lebih dari sekadar informasi tentang universitas. Mereka perlu mengetahui apakah program studi yang dipilih sesuai dengan rencana masa depan, beasiswa apa yang dapat diikuti, dokumen apa yang harus disiapkan, dan bagaimana mempersiapkan diri sebelum berada di negara tujuan.
Melalui GFS, pendampingan mencakup pilihan universitas dan program studi, persiapan aplikasi, strategi beasiswa, hingga berbagai kebutuhan yang berkaitan dengan studi di luar negeri.
Posisi Fauzen sebagai Founder sekaligus CEO membuat pengalaman tersebut diterjemahkan ke dalam arah pengembangan GFS. Pengalaman sebagai mahasiswa internasional dan penerima beasiswa menjadi salah satu bekal untuk memahami proses yang kini dijalani calon mahasiswa.
Tidak Berhenti pada Keberangkatan
Bagi Fauzen, pendidikan internasional bukan semata-mata soal berangkat ke luar negeri.
Mahasiswa yang diterima di universitas asing masih harus menghadapi sistem akademik yang berbeda, lingkungan multikultural, pola belajar baru, serta tuntutan untuk hidup lebih mandiri.
Karena itu, keputusan untuk melanjutkan studi ke luar negeri perlu didasarkan pada tujuan yang jelas.

Pertanyaannya bukan hanya universitas mana yang bagus, tetapi juga mengapa universitas tersebut dipilih, apakah program studinya sesuai, dan bagaimana pendidikan itu mendukung rencana akademik maupun karier.
Baca Juga: Mahasiswa Kampar Catat Sejarah di Arab Saudi, Afwan Rahmazi Raih Gelar Mumtaz
Persoalan tersebut tidak asing bagi Fauzen. Ia pernah berada di posisi mahasiswa yang harus mempersiapkan diri untuk memasuki lingkungan pendidikan internasional. Kini, pengalaman itu digunakan dalam mendampingi calon mahasiswa melalui GFS.
Pendampingan pendidikan, dalam pendekatan yang dibangun Fauzen, juga tidak semata diarahkan pada penyelesaian urusan administratif.
Ada kebutuhan untuk melihat calon mahasiswa secara lebih utuh—latar belakang, tujuan pendidikan, pilihan program studi, hingga kesiapan menghadapi kehidupan akademik di luar negeri.
Pengalaman sebagai Akademisi
Sebelum mendirikan Global Future Solution, Fauzen lebih dahulu membangun pengalaman di dunia akademik Indonesia.
Ia pernah menjadi Dosen Hubungan Internasional di Universitas Paramadina pada 2009–2015. Pada periode 2011–2018, ia juga menjadi Dosen Hubungan Internasional di Universitas Al Azhar Indonesia.
Pengalaman tersebut memberinya kesempatan untuk melihat pendidikan dari dua sisi.
Follow Instagram Kampartrapost
Sebagai mahasiswa, ia merasakan langsung lingkungan pendidikan internasional. Sebagai dosen, ia berinteraksi dengan mahasiswa Indonesia dan melihat beragam kebutuhan mereka dalam merencanakan pendidikan dan masa depan.
Dari dua pengalaman tersebut, perhatian Fauzen terhadap pendidikan berkembang lebih jauh.
Menurutnya, kesempatan memperoleh pendidikan internasional seharusnya tidak hanya dipandang sebagai pencapaian personal. Pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh dapat diteruskan kepada generasi berikutnya.
Dari Penerima Manfaat Menjadi Pendamping
Perjalanan Fauzen memperlihatkan perubahan posisi: dari penerima manfaat pendidikan internasional menjadi orang yang berusaha membantu orang lain mendapatkan kesempatan serupa.
Ia mengaitkan gagasan tersebut dengan filosofi “Khoirunnas Anfa’uhum Linnas”, yang berarti sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.
Beasiswa yang pernah diterimanya membuka jalan bagi perjalanan akademik. Pendidikan di berbagai negara memperluas perspektif. Sementara pengalaman sebagai dosen mempertemukannya dengan generasi muda yang sedang mencari arah pendidikan.

Pengalaman tersebut kemudian menemukan bentuk lain melalui Global Future Solution.
Fauzen membawa perspektif tersebut dalam pengembangan GFS dengan menempatkan kebutuhan calon mahasiswa sebagai bagian penting dari proses pendampingan.
Keberhasilan tidak semata-mata diukur dari apakah seseorang mendapatkan LoA atau visa.
Ada pertanyaan lain yang perlu dijawab: apakah pilihan pendidikan tersebut sesuai dengan tujuan calon mahasiswa? Apakah ia telah mempersiapkan diri secara akademik? Dan apakah ia memahami lingkungan yang akan dihadapinya?
Apa yang Dibawa Pulang
Pendidikan di luar negeri kerap dipandang sebagai pintu menuju masa depan yang lebih luas. Namun, bagi Fauzen, perjalanan tersebut tidak berhenti ketika seseorang meninggalkan Indonesia atau ketika gelar telah diperoleh.
Ada pengetahuan, pengalaman, jejaring, dan perspektif yang dapat dibawa pulang.
Karena itu, harapan terhadap generasi yang memperoleh pendidikan internasional bukan hanya mereka berhasil secara personal, tetapi juga mampu menggunakan pengalaman tersebut untuk memberi manfaat bagi lingkungan di sekitarnya.
Dalam konteks itulah perjalanan Fauzen menemukan maknanya.
Ia pernah menjadi penerima beasiswa internasional, belajar di sejumlah institusi pendidikan dunia, dan mengajar di perguruan tinggi Indonesia. Kini, sebagai Founder sekaligus CEO Global Future Solution, pengalaman tersebut ia bawa ke dalam upaya mendampingi generasi muda yang ingin menempuh pendidikan di luar negeri.
Pada akhirnya, pendidikan global bukan hanya soal seberapa jauh seseorang pergi untuk belajar.
Yang lebih penting adalah apa yang ia peroleh selama perjalanan itu dan apa yang dilakukan dengan pengetahuan tersebut setelah kembali.
Bagi Fauzen, kesempatan yang pernah membuka jalan bagi dirinya dapat diteruskan untuk membuka jalan bagi generasi berikutnya.