
Tak Hanya Kisah Perjuangan, Maryo Zaini Soroti Narasi Pengkhianatan Datuk Tabano
Kampartra Post- Mahasiswa program magister bidang diplomasi di University of Siena, Italia, Maryo Zaini, mengajak masyarakat melihat sejarah Gandulo Datuk Tabano dari sudut pandang yang lebih luas.
Menurutnya, sejarah panglima perang asal Kampar itu tidak hanya menyimpan kisah perjuangan melawan kolonial Belanda, tetapi juga pelajaran penting dari narasi pengkhianatan yang masih jarang dibahas.
Maryo mempresentasikan penelitiannya berjudul Politics of Memory in Post-Colonial Indonesia: The Case of Datuk Tabano dalam konferensi internasional bertema Geopolitics of Memory in the Indo-Pacific yang berlangsung di University of Warwick dan University of Birmingham, Inggris.
Melalui penelitian tersebut, ia mengangkat bagaimana politik memori membentuk narasi sejarah Datuk Tabano di Indonesia.
Menurut Maryo, ia sengaja memilih Datuk Tabano sebagai objek penelitian karena kajian sejarah lokal yang menembus forum akademik internasional masih sangat terbatas.
Ia berharap langkah tersebut membuka ruang diskusi yang lebih luas mengenai sejarah Kampar dalam perspektif akademik global.
“Saya menghubungkan sejarah Gandulo Datuk Tabano dengan politik di Indonesia serta melihat bagaimana perannya dalam politik Indonesia saat ini,” ujarnya.
Belajar dari Narasi Pengkhianatan
Follow Instagram KampartraPost
Maryo menjelaskan, penelitiannya tidak berfokus pada keseluruhan perjalanan hidup Datuk Tabano, melainkan menganalisis bagaimana narasi akhir hayat sang pejuang dibangun dalam berbagai sumber sejarah.
Ia menemukan bahwa banyak referensi hanya menonjolkan kisah perjuangan, sementara narasi mengenai dugaan pengkhianatan oleh pribumi masih minim mendapat perhatian.
“Saya ingin mengangkat bagaimana narasi sejarah Datuk Tabano terbentuk. Kita tidak hanya belajar dari perjuangannya, tetapi juga dari pengkhianatan yang menyebabkan beliau gugur,” katanya.
Untuk menyusun penelitian tersebut, Maryo menelaah berbagai sumber.
Hal itu ia mulai dari buku sejarah lokal dan nasional, arsip kolonial Belanda, karya ilmiah, hingga pemberitaan media.
Ia mengakui keterbatasan referensi ilmiah mengenai sejarah lokal Kampar menjadi tantangan terbesar selama proses penelitian.
Meski demikian, presentasinya mendapat respons positif dari akademisi yang berasal dari Inggris, Tiongkok, Hong Kong, Korea Selatan, Vietnam, Mongolia, Italia, dan Indonesia.
Menurutnya, penelitian tersebut membuka perspektif baru dalam kajian politik memori di kawasan Asia Pasifik.
Maryo berharap penelitian itu dapat terbit di jurnal internasional dan mendorong lahirnya lebih banyak forum yang membahas sejarah Kampar.
Ia juga mengajak generasi muda memanfaatkan media sosial untuk memperkenalkan sejarah daerah melalui video, tulisan, maupun konten digital.
“Jangan malu dan tetap semangat melestarikan budaya dan sejarah Kampar. Dengan melestarikannya, kita sudah ikut menjaga identitas daerah,” tutupnya.