
Kisah Disiplin Tan Malaka: Dari Sungai hingga Kandang Ayam
Kamapartrapost- Dalam buku Dari Penjara ke Penjara, Tan Malaka menceritakan beberapa kisah menarik dari masa kecilnya yang menggambarkan kerasnya pendidikan pada masa itu.
Salah satu kisah terjadi di Batang Sungai Ombilin, kawasan Danau Singkarak, Kabupaten Solok. Saat itu, Tan Malaka kecil ikut mandi bersama teman-temannya di sungai.
Namun, karena arus deras, ia terbawa hanyut dan nyaris tenggelam. Beruntung, temannya berhasil menyelamatkannya.
Tan bahkan sempat pingsan hingga dibawa pulang ke rumah dalam keadaan lemas.
Sesampainya di rumah, orang tuanya, terutama ibunya, sudah menunggu dengan rotan untuk menghukum Tan karena nakal.
Tidak hanya itu, ibunya juga meminta guru Tan yang dengan panggilan “Guru Gadang” untuk ikut memberikan hukuman, yakni dengan cara pilin pusar, agar Tan jera dan tidak mengulangi perbuatannya.
Selain itu, Tan Malaka juga pernah mengalami hukuman lain yang cukup unik dan keras. Gurunya pernah memasukkan Tan Malaka ke dalam kandang ayam karena bermain “perang jeruk”.
Permainan yang awalnya sekadar lempar-lemparan jeruk itu kemudian berubah menjadi keributan yang lebih serius hingga berakhir menjadi “perang batu”.
Karena dianggap membahayakan dan mencerminkan kenakalan yang berlebihan, Guru Gadang memberikan hukuman tegas dengan mengurung Tan sebagai bentuk pelajaran.
Orang Tua dan Guru
Dari kisah-kisah tersebut, kita dapat melihat betapa eratnya hubungan antara orang tua dan guru dalam mendidik anak pada masa itu.
Seorang guru bukan hanya berperan sebagai pengajar di sekolah, tetapi juga sebagai orang tua kedua yang turut bertanggung jawab dalam membentuk karakter, disiplin, dan perilaku muridnya.
Guru memiliki wibawa yang besar dan masyarakat menaruh kepercayaan penuh bahwa tindakan guru dilakukan demi kebaikan anak didiknya.
Namun, jika kita hubungkan dengan keadaan sekarang, situasinya sangat berbeda.
Pada masa kini, banyak kasus menunjukkan bahwa guru justru bisa mendapat masalah ketika memberikan hukuman kepada murid, meskipun tujuannya untuk mendidik.
Tidak sedikit orang tua memprotes, melaporkan, bahkan harus menghadapi proses hukum. Akibatnya, banyak guru menjadi lebih berhati-hati, bahkan takut untuk menegur atau mendisiplinkan siswa secara tegas.
Perubahan ini menunjukkan adanya pergeseran pola pikir dalam dunia pendidikan.
Hal ini tentu penting agar tidak terjadi kekerasan dalam pendidikan, tetapi di sisi lain juga menimbulkan tantangan baru, yaitu berkurangnya kewibawaan guru dalam membentuk sikap disiplin siswa.
Pada akhirnya, pendidikan ideal seharusnya tetap menempatkan guru sebagai sosok yang berwibawa, namun dengan cara mendidik yang lebih manusiawi dan bijak.
Orang tua dan guru perlu mempererat hubungan demi kebaikan anak-anaknya agar membentuk generasi yang berkarakter.