
Rasa Aman Perempuan dan Arah Peradaban
Kampartra Post Masyarakat menempatkan perempuan sebagai rahim peradaban, namun rasa aman belum sepenuhnya menjadi bagian dari kehidupan perempuan. Di tengah pujian sebagai penopang nilai dan pendidik generasi, berbagai bentuk kekerasan terus mengancam perempuan dalam kehidupan sehari-hari.
Data sepanjang 2025 memperlihatkan Komnas Perempuan mencatat 4.472 laporan kekerasan terhadap perempuan, meningkat dari 4.178 kasus pada 2024. Ketua Komnas Perempuan, Maria Ulfah Anshor, menyebut kenaikan tersebut cukup signifikan.
Ia juga mengingatkan bahwa angka itu hanyalah fenomena gunung es. Laporan yang masuk hanya sebagian kecil dari kasus yang benar-benar terjadi di masyarakat.
Kenaikan angka ini menunjukkan bahwa sebagian perempuan semakin berani melapor dan kekerasan masih terus berlangsung dalam skala yang mengkhawatirkan.
Kontradiksi yang Mengakar
Penempatan perempuan sebagai penjaga moral keluarga dan penopang kehidupan sosial. Akan tetapi, realitas menunjukkan bahwa perempuan tetap mendominasi daftar korban kekerasan fisik, psikis, seksual, dan ekonomi.
Kontradiksi ini tidak bisa dianggap sebagai kebetulan. Ia lahir dari cara pandang yang belum sepenuhnya memandang perempuan sebagai subjek yang merdeka.
Simbol penghormatan sering terdengar dalam pidato dan peringatan seremonial namun, praktik perlindungan nyata justru belum merata.
Banyak perempuan masih merasa perlu menghitung risiko saat pulang malam, membatasi ruang gerak di tempat umum, atau ragu menyatakan penolakan dalam relasi personal.
Makna Rasa Aman yang Sesungguhnya
Rasa aman bukan hanya soal hukum atau aparat dan keamanan berarti kebebasan dari ancaman.
Seorang perempuan seharusnya dapat pulang tanpa rasa cemas, beraktivitas tanpa kewaspadaan berlebihan, dan menentukan pilihan hidup tanpa takut mendapat balasan kekerasan.
Kenyataannya, banyak perempuan masih harus menghitung risiko dalam keputusan personal sehingga situasi ini membentuk kewaspadaan permanen yang perlahan menggerus kebebasan.
Follow Instagram Kampartrapost untuk berita menarik lainnya
Dampak terhadap Generasi
Ketakutan tidak hanya melukai individu, tetapi juga memengaruhi kualitas generasi serta lingkungan yang penuh kecemasan pun tidak memberi ruang optimal bagi kreativitas dan keberanian.
Seseorang yang sibuk bertahan akan sulit berkembang dan jika perempuan terus hidup dalam tekanan, bagaimana mereka dapat menyalurkan potensi secara maksimal?
Bagaimana nilai kasih, empati, dan kemanusiaan dapat diwariskan secara sehat jika pengajarnya sendiri merasa terancam?
Tanggung Jawab Bersama
Kekerasan terhadap perempuan berakar pada relasi kuasa yang timpang, budaya patriarki, ketimpangan ekonomi, dan lemahnya perlindungan struktural.
Perubahan tidak cukup berhenti pada empati sesaat, masyarakat membutuhkan sistem perlindungan yang kuat, pendidikan kesetaraan sejak dini, serta komitmen untuk menghormati otonomi perempuan sebagai subjek yang merdeka.
Perempuan bukan sekadar simbol rahim peradaban tetapi adalah fondasi nyata masa depan bangsa, jika fondasi terus diguncang, bangunan tidak akan pernah kokoh.
Kemajuan suatu bangsa tidak hanya diukur dari gedung tinggi atau pertumbuhan ekonomi dan kualitas peradaban tercermin dari seberapa aman perempuan dapat hidup, belajar, bekerja, dan bermimpi.