
Spica yang Tak Tampak Malam ini
Malam ini aku ingin melihat bintang.
Aku tahu, di langit ada bintang biru-putih yang cahayanya telah menempuh sekitar 250 tahun untuk sampai ke Bumi.
Namun ketika aku menengadah,
yang kulihat hanya bulan yang berkabut.
Ini bukan karena bintangnya hilang.
Awan dan uap air di atmosfer menyebabkan hamburan cahaya. Cahaya dari bulan yang jauh lebih terang, tersebar oleh partikel udara, sehingga langit menjadi terang dan kontras bintang-bintang redup seperti Spica menurun drastis.
Selain itu, ada juga faktor penyerapan dan penutupan . Awan bertindak seperti lapisan yang menghalangi cahaya bintang masuk langsung ke mata kita. Jadi bukan bintangnya yang redup melainkan jalur cahayanya yang terganggu.
Aku tetap ingin melihatnya.
Bintang itu masih memancarkan energi melalui reaksi fusi nuklir di intinya. Energi itu bergerak sebagai radiasi elektromagnetik, melintasi ruang hampa, hampir tanpa hambatan, sampai akhirnya berhenti di atmosfer Bumi.
Dan justru di titik terakhir itu,
cahayanya kalah oleh cuaca.
Lalu aku membuka aplikasi Stellarium
Di sana, posisi Spica terlihat jelas, koordinatnya pasti, ketinggiannya terukur. Aplikasi itu bekerja berdasarkan data astronomi perhitungan orbit Bumi, posisi rasi bintang, dan waktu rotasi langit.
Secara data, aku melihatnya.
Secara nyata, aku tidak.
Di situ aku sadar
Ilmu bisa memastikan keberadaan.
Tapi pengalaman tetap bergantung pada kondisi.
Bintang itu tidak pernah hilang.
Hanya saja, malam ini,
atmosfer Bumi tidak mengizinkanku melihatnya.